Latest Event Updates

Surga Adalah Ibu

Posted on Updated on

 

AKU langsung mengacungkan jari, menginterupsi Pak Hasan, guru agama yang belum tuntas menerangkan maksud dari hadits Nabi yang berbunyi surga itu berada di telapak kaki ibu. “Ya?”  Pak Hasan tak bisa menyembunyikan kejengkelannya karena interupsiku.

“Pak, kenapa surga itu ada ditelapak kaki ibu? Kenapa tidak ada di wajah atau hati seorang ibu?”berondongku tak puas.

Pak Hasan tergagap, tidak siap dengan jawaban atas pertanyaanku. “Menurutmu kenapa?”Pak Hasan mengembalikan pertanyaan kepadaku, menutupi ketidaktahuannya.
Aku mengangkat bahu, tidak tahu.

Sebenarnya aku ingin protes, kenapa surga itu harus berada di telapak kaki ibu, kenapa bukan bagian tubuh ibu yang lain. Cuma aku tidak tahu harus protes pada siapa. Aku membayangkan betapa buruk surga yang akan aku tempati nanti. Soalnya kaki ibuku penuh dengan kutu air akibat terlalu sering berendam di air sabun, belum lagi tumitnya yang pecah-pecah sehingga menimbulkan garis-garis hitam yang sangat tidak sedap.

Lebih parahnya lagi, jempol ibu sangat bau karena kuku kakinya sering tumbuh di dalam daging alias cantengan yang membuat pinggir kukunya sering mengeluarkan nanah yang berbau busuk.

Aku lebih senang kalau surga disebutkan berada di wajah karena wajah ibuku sangat cantik khas perempuan Sunda. Alisnya matanya seperti semut yang berbaris, matanya selalu bersinar seperti bintang kejora di malam hari. Kalau ibu tersenyum, akan terlihat lesung di pipi kirinya yang melengkapi kecantikan wajahnya.

Atau kenapa juga tidak disebutkan surga itu berada di tangan ibu karena tangan ibu sering digunakan untuk menggendong anaknya. Membelai tubuhku untuk menghantarkanku ke alam mimpi. Mendekap dikala aku terbangun ditengah malam karena mimpi buruk. Memelukku untuk menyemangatiku agar tidak takut mendengar suara halilintar. Dan terkadang memberiku pukulan dipaha jika aku nakal.

Menurut keterbatasan akalku yang saat itu masih berusia 12 tahun, telapak kaki tidak banyak berkontribusi dalam mengasuh ataupun membesarkan anak. Telapak kaki hanya digunakan untuk berjalan dan menyanggah tubuh agar bisa berdiri tegak. Belum pernah aku dibelai ibu menggunakan telapak kakinya. Kalaupun ibu mau membelai memakai kaki, tentu aku akan menolaknya, soalnya bau.  Menurutku telapak kaki ibu hanya berkontribusi mengajakku berjalan-jalan saja. Tidak lebih.

Seiring bertambahnya usiaku, pertanyaan iseng kenapa surga itu berada di telapak kaki ibu mulai terlupakan. Aku disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan hidup yang lain yang lebih menggugah rasa ingin tahuku. Pertanyaan itu kembali mengusik kalbuku saat aku menggenapi kesempurnaan takdirku sebagai seorang perempuan, setelah tiga bulan menikah, aku dinyatakan hamil.

Aku kembali mempertanyakan kenapa surga itu tidak berada dirahim seorang ibu. Karena di dalam rahim, dari segumpal darah yang beku bisa menjadi segumpal daging hingga bermetamorfosa jadi seorang janin yang sempurna. Walaupun janin itu seperti lintah yang dengan rakus mengisap sari-sari makanan dalam tubuhku, tidak pernah ada keluhan yang keluar dari mulutku. Justru aku merasa sangat bahagia. Biarpun nafasku menjadi pendek dan cepat terengah-engah karena harus berbagi nafas kehidupan dengan bayi yang kukandung, aku menjalaninya dengan penuh syukur.

Aku belajar mengenai bentuk cinta yang lain. Berbeda  yang kurasakan  saat bersama  laki-laki yang kini menjadi suamiku. Cinta yang bersyarat. Aku mencintai suamiku setulus hati tapi aku juga mengharapkan balasan atas cintaku. Aku berharap suamiku juga mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.

Saat hamil, aku baru mengenal cinta yang lain. Sebuah cinta yang tak bersyarat. Aku mencintai bayi yang kukandung walaupun aku tidak tahu seperti apa rupanya nanti saat lahir, apakah ia akan berwajah jelak ataupun rupawan. Aku mencintainya biarpun tidak ada kepastian apakah ia akan balas mencintaiku atau tidak. Aku mencintainya karena cinta itu sendiri.

Saat memasuki kamar bersalin, aku kembali mempertanyakan kenapa surga ada di telapak kaki ibu. Kenapa bukan prosesi kelahiran yang menjadi surga? Saat akan melahirkan anakku, aku tidak peduli dengan rasa sakit yang kualami. Sekujur tubuh kurasakan sakit, perut terasa mulas yang dahsyat dan seakan mau meledakkan diriku. Keringat dingin membanjiri diriku, tapi tidak ada kata-kata penyesalan yang keluar dari mulutku. Aku hanya mengaduh kesakitan bukan menyesali diri harus mengalami  ini.

Aku tidak peduli dengan suamiku yang sibuk ke sana ke mari karena gugup menghadapi persalinanku. Aku juga tidak peduli apakah aku nanti akan hidup atau harus merenggang nyawa. Yang ada dalam pikiranku saat itu hanya keinginan anak yang kulahirkan bisa selamat dan sempurna. Aku sudah ikhlas kalaupun takdir mengharuskanku meninggal saat melahirkan nanti. Aku hanya ingin sebelum nyawa berpisah dari tubuhku, aku mendengar tangis pertama bayi yang telah kukandung dan memastikan ia lahir dengan tubuh yang sempurna.

Aku menangis karena teringat kenakalan dan kesusahan yang pernah kulakukan pada ibu. Ternyata sangat berat proses yang harus dilalui seorang perempuan sebelum ia diwisuda menjadi ibu melalui proses kelahiran. Aku ingat setelah dokter mengatakan pembukaanku telah lengkap dan aku harus masuk kamar bersalin, Aku mencium tangan ibu dengan perasaan takzim yang belum pernah kurasakan. Aku meminta maaf dan ampun atas semua hal yang membuat hati ibu terluka. Ibu menganggukkan kepala sambil berlinang air mata.

“Tidak perlu meminta maaf, karena Ibu sudah memaafkan tanpa perlu kau minta. Ibu berdoa biar ibu saja yang menanggung beban kesakitan yang kau rasakan saat ini. Ibu ikhlas menanggungnya. Melihat kau kesakitan seperti ini dan ibu tak berdaya untuk menolongmu membuat  hati ibu seperti mau remuk,”kata ibu terbata-bata diantara isak tangisnya.

“Ibu mau mendampingiku itu sudah sangat membantu dan memberi semangat. Doakan aku, biar bisa melahirkan dengan selamat,”pintaku sebelum perawat memapahku ke ruang bersalin.

Rasa sakit yang menderaku membuatku lupa bagaimana cara mengejan yang benar dan bernafas yang tepat. Dua hal yang kupelajari selama mengikuti sesi senam dan yoga hamil, mendadak hilang dalam ingatan. Setelah dua jam yang menyiksa fisik dan batin, akhirnya anakku terlahir didunia dengan selamat. Mendengar  tangisnya yang bergema diruangan bersalin, sirna sudah semua sakit yang kurasakan berganti dengan rasa bahagia yang begitu membuncah didada. Aku telah menjadi seorang ibu!

Sebagaimana dengan bayi diseluruh dunia, anakku terlahir tanpa dilengkapi dengan buku panduan bagaimana cara mengasuh dan membesarkannya. Tidak cukup hanya mengandalkan insting sebagai seorang ibu, aku harus terus belajar. Aku belajar dari pengalaman ibu dan mertuaku ketika mengasuhku dan suamiku dulu. Aku juga jadi rajin membaca buku-buku tentang pengasuhan anak. Pasca melahirkan, hubunganku dengan ibu kian erat. Sebisa mungkin aku berusaha menyenangkan hati ibu dengan bertutur dan bersikap manis. Bayang-bayang rasa sakit saat melahirkan terus menghantuiku dan menjadi rem jika aku akan berkata-kata keras pada ibu.

Rasa sayang dalam diriku semakin besar dan mengkristal  mengikuti pertumbuhan anakku. Semakin aku melimpahkan kasih sayang kepada anakku, rasa itu terus bertambah. Kenapa rasa sayang seorang ibu tidak diibaratkan sebuah surga? Karena rasa sayanglah seorang ibu rela bangun tengah malam hanya untuk mengganti popok yang basah kena kencing.

Rasa sayang juga yang membuatku tambah panjang berdoa kepada Allah. Dalam setiap doa yang kulantunkan, aku selalu menyelipkan doa khusus untuk kebaikan anakku di dunia maupun di akhirat nanti. Aku selalu meminta yang terbaik untuk anakku. Aku sangat yakin, namaku juga selalu ada dalam setiap doa ibu. Walaupun aku sudah menikah dan hidup terpisah namun doa ibu selalu menyertai setiap langkah hidupku.

Dan aku pun baru menyadari bahwa keberhasilan yang aku capai sekarang ini bukan murni hasil kerja kerasku tapi berkat doa yang selalu ibu panjatkan untukku. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukku. Doa ibu seperti mercu suar yang menuntunku jika aku mulai salah melangkah. Doa ibu juga menjadi pelita ketika gelapnya nafsu mulai menguasai hati. Doa ibu mengantarkanku menjemput kebahagiaan berumah tangga
***

Badanku menggigil dalam hangatnya dekapan suamiku. Aku sepenuhnya tidak menyadari apa yang terjadi. Aku merasa ada sosok lain yang memerintahkan tubuhku untuk bergerak. Aku hanya menuruti apa yang orang lain perintah. Aku terlalu lemah untuk membantahnya. Perlahan suamiku membimbingku mendekati ibu. Seperti robot, aku pun patuh.

Aku merasa pengap dan sulit bernafas. Bukan karena ramainya orang yang ada disekelilingku tapi karena dadaku sesak tidak bisa menanggungkan rasa kehilangan sosok ibu. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang telah melahirkanku sekarang sudah terbujur kaku di hadapanku.

“Ayo, cium ibumu untuk yang terakhir kalinya!” perintah seseorang. Aku tidak tahu siapa yang memerintahkan itu.

Ibu sudah terbungkus rapi kain kafan. Hanya telapak kaki dan mukanya saja yang belum ditutup. Walau mata ibu terpejam rapat tapi terlihat sebuah senyuman kecil di bibirnya yang pucat. Aku mencium kaki ibu dengan takzim. Kaki ibu terasa sangat dingin. aku seperti mencium bongkahan es yang diukir seperti kaki. Rasa dingin itu menjalari perasaanku. Aku merasa tubuhku menjadi ringan.

Sebelum mencium muka ibu, aku puaskan diriku untuk memandang wajah ibu. Agar bisa kusimpan didalam seluruh ruang memori otakku. Aku cium kening ibu. Dan lagi-lagi hanya ada rasa dingin yang kurasakan. Membekukan nestapa yang kurasakan.

“Ibu, maaf….” hanya itu yang bisa keluar dari bibirku. Ada banyak kata yang ingin kubisikkan tapi semuanya sirna karena sedih yang tak terperi.

Saat jenazah ibu dimasukkan ke dalam keranda, kesadaranku kembali. Rela atau tidak, aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak akan berjumpa lagi dengan ibu. Tidak akan ada lagi orang yang mencintaiku sedalam cinta ibu. Namaku tidak akan disebut lagi dalam doa-doa panjangnya. Airmata yang kutahan dari tadi keluar tanpa bisa dicegah.

Aku belum bisa membahagiakan ibu, belum tuntas aku melaksanakan bakti tapi ibu keburu dijemput maut. Kenapa terasa sempit waktu untuk membalas kebaikan ibu. Terkenang percakapan dengan ibu ketika aku hamil anak pertama dulu.

“Kamu tidak akan pernah bisa membalas kasih sayang seorang ibu. Akan kering air laut jika digunakan sebagai tinta untuk menuliskan seberapa luas kasih dan cinta ibu. Kalau kamu mau membalas kasih sayang ibu adalah dengan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak.”

Kenapa ketika ibu wafat aku baru memahami mengapa Nabi mengatakan surga itu berada di telapak kaki seorang ibu. Karena ibu diciptakan hakikatnya untuk menjadi surga untuk anaknya. Hidupnya didedikasikan selalu memberi kedamaian dan kasih sayang untuk anak-anaknya. Dan sekarang surgaku telah pergi untuk kembali kepada pencipta-Nya. Air mataku makin menderas ketika jenazah ibu mulai dibawa keluar rumah.

Melihatku bersimbah air mata, ketiga anak-anakku ikut-ikutan menangis sambil memeluk badanku. Ya, ibuku surgaku telah tiada. Sekarang aku yang harus menjadi surga untuk anak-anakku.

(Untuk Surgaku : Almarhumah Sri Mulyani)


Oleh : Emi afrilia Burhanuddin
 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(ful)

Tunggu Jero

Posted on Updated on

 

Senin, 15 September 2014 – 13:24 wib

 

Tunggu Jero

Sedih yang kurasakan tidak sedalam yang dirasakan oleh pasangan suami istri yang duduk di hadapanku. Karenanya sebisa mungkin kutahan airmata yang hampir jatuh agar tidak menambah derajat kepiluan adikku

Kabar burung yang beredar terbatas di kalangan keluarga besarku akhirnya menjadi fakta yang menyakitkan hati. Tidak perlu ribuan kata untuk mengungkapkannya, hanya dengan melihat raut muka adikku dan istrinya, aku sudah tahu bahwa desas desus itu benar adanya. Kesedihan terpahat jelas di wajah keduanya. Tidak ada gunanya aku menampakkan kesedihanku. Walaupun aku merasa 21 tahun penantianku terasa sia-sia belaka.

Sedihku karena aku gagal mengulang nostalgia peristiwa yang sangat membekas dijiwaku. Sementara adikku bersedih karena merasa gagal menjadi orangtua.

Impian kecil itu mulai kusemai seiring dengan kelahiran Raden Ayu Nuraini. Aku lebih suka memanggil keponakanku dengan nama cumbuan Melati. Walaupun masih bayi, tapi kecantikannya sudah terpancar dengan jelas. Kulitnya yang putih bening terasa kontras dengan rambutnya yang hitam legam. Bibirnya seperti delima, merah segar yang mengundang selera untuk memakannya. Hidungnyaa bangir, tidak mancung seperti orang Arab tapi tidak pesek. Alis matanya yang lebat menaungi matanya yang agak sipit.

Siapapun yang melihatnya pasti ingin menimangnya karena tidak tahan melihat keelokan wajahnya yang begitu mempesona. Sementara yang punya sifat jahil bercampur gemas akan mencubit pipinya sehingga menimbulkan bekas merah.

Walaupun adikku sempat protes karena aku memanggil anaknya dengan Melati, aku tidak memperdulikannya. Bagiku Melati sangat cocok untuk memanggil bayi yang cantik itu. “Melati adalah ratunya para bunga. Biarpun bentuknya kecil tapi ia menyebarkan harum semerbak yang selalu dirindui oleh para lebah. Anakmu adalah ratu dikeluarga besar kita, makanya aku panggil Melati,” ujarku memberi alasan.

Entah karena termakan alasanku atau bukan, adikku akhirnya ikut-ikutan memanggil Melati kepada anak bungsunya. Aku tidak mengada-ada soal Melati yang kuibaratkan sebagai ratu dikeluarga besarku. Karena hanya Melati satu-satunya cucu perempuan dalam keluarga. Aku lima kali melahirkan anak laki-lakiku. Mau hamil lagi, tidak bisa karena ketika melahirkan anak kelima aku sempat mengalami pendarahan yang hebat.Untuk menyelamatkan nyawaku, dokter terpaksa mengangkat rahimku.

Sementara iparku, ibunya Melati lebih beruntung. Rahimnya diangkat setelah berhasil mengeluarkan bayi perempuan yang berparas jelita. Bukan karena pendarahan rahimnya diangkat tapi karena atas permintaannya sendiri. Iparku memang sangat subur, hampir tiap tahun hamil dan melahirkan. Berbagai alat kontrasepsi pernah dicobanya namun tidak ada satupun yang berhasil mencegahnya dari kehamilan.

Makanya ketika ia berhasil melahirkan anak perempuan, dengan kesadaran penuh ia minta rahimnya diangkat. Sembilan orang anak sudah cukup baginya. Delapan laki-laki dan diakhiri dengan bayi perempuan. Sebuah penutupan yang indah.

Keluarga besarku bisa dibilang miskin dengan anak perempuan. Kehadiran Melati menjadi pusat perhatian dan kasih sayang seluruh keluarga.Ia memberi warna yang berbeda, keceriaan yang menyegarkan jiwa. Tanpa malu dan sungkan aku utarakan niatku pada adikku untuk mengulang nostalgia bersama Melati jika ia dewasa nanti. Adikku hanya tersenyum-senyum saja menanggapinya. Dikiranya aku hanya main-main, padahal aku sangat serius dengan niatku itu.

Melati yang dulu menjadi sumber kebahagian bagi keluarga besar sekarang menjadi telaga kesedihan yang tak bertepi bagi orangtuanya. Aku yang ikut menitipkan mimpi dengan Melati pun harus mengikhlaskan mimpi itu tercerai berai. Sedih dan kecewa.
***

Keringat dengan deras terus mengucur dari dahi membuat bedak di wajahku jadi luntur.Wak Kiya dengan gesit membedakiku kembali agar wajahku tetap kelihatan cantik. Belum lima menit menempel di muka, keringat yang menganak sungai di wajahku menghanyutkan lagi bedak. Tanpa banyak cakap, Wak Kiya memoles lagi wajahku dengan serbuk putih yang mengeluarkan bau harum. Seharusnya aku senang bisa memakai bedak yang berbentuk bubuk halus dengan spons yang terasa lembut ketika menyentuh kulit. Sehari-hari aku menggunakan bedak seperti kapur tulis yang berbentuk kotak dengan tekstur keras berwarna  putih dan bergambar perempuan cina.
Jika ingin memakainya, aku harus menggosok-gosokkannya terlebih dahulu ke tangan supaya menjadi halus sebelum diusapkan ke wajah. Hanya saat-saat spesial saja bisa menggunakan bedak berbentuk bubuk halus seperti sekarang. Seperti sekarang, saat pernikahanku.

Rasa gugup membuatku terus-terusan berkeringat.Wak Kiya yang biasanya sangat cerewet dan doyan mengeluarkan komentar yang pedas, lebih banyak mengunci rapat mulutnya. Beliau seakan memahami kegugupanku.
“Wak, apakah benar hari ini hari Kamis?” tanyaku memastikan.
Wak Kiya mengangguk membenarkan.
“Kalau begitu, malam ini aku akan….” Aku tak berani melanjutkannya. Jangankan untuk membayangkan, mau membicarakannya saja mukaku sudah terasa hangat. Malu dan gugup bercampur aduk membuat keringatku makin deras mengalir.
“Wak, Aku takut!” tanpa kuminta aku mulai terisak dan membenamkan mukaku di dada Wak Kiya.
“Apa yang harus ditakuti?”Wak Kiya sambil mengusap-usap punggungku dengan lembut.

Aku semakin terisak. Aku sendiri tidak tahu apa yang menjadi sumber ketakutanku. Perasaanku sekarang kacau balau, kalau bisa menghilang aku ingin menghilang. Melarikan diri dari situasi yang membuatku tidak nyaman.

“Kenapa harus takut? Bukankah kamu mencintai Matcik?” kata Wak Kiya berusaha meredakan tangisku. Cinta?Apa itu cinta? Aku tidak pernah tahu apa artinya cinta. Tidak ada seorang pun yang memberiku penjelasan tentang artinya cinta. Sejak tahu diriku di-padik, ebok hanya memberiku nasehat singkat.

“Nurma, agar hidupmu bahagia kamu hanya perlu melakukan dua hal. Bersikaplah pasrah dan ikhlas terhadap takdir yang berlaku pada dirimu!”
Dan ketika Matcik yang merupakan mindo dari pihak ema datang membawa  tenong tiga sebagai prosesi awal lamaran, aku hanya diam. Aku tidak menolaknya namun tidak juga memiliki kerelaan untuk menerimanya.

Sudah dua lebaran aku mendapatkan tamu bulanan. Biasanya gadis di kampungku hanya berkelang beberapa purnama saja sejak mens pertamanya datang sudah ada yang memadiknya.Sementara aku belum juga ada yang memadik. Bukan karena aku kurang cantik tapi tidak ada laki-laki yang cukup bernyali untuk mengirimkan pinangan untukku. Menurut sebagian orang, kecantikan wajahku menobatkanku sebagai kembang di kampung. Di depan namaku bertengger gelar Raden Ayu dan berasal dari keluarga yang berada. Kombinasi hal itu membuat laki-laki tidak berani memasukkan namaku dalam daftar calon istri. Kenyataan itu tentu membuat resah orangtua dan diriku. Bayang-bayang menjadi perawan tua terus menghantuiku.

Tidak mungkin aku mengobral diri demi sebuah pinangan. Aku hanya menumpahkan resahku dalam doa-doa yang panjang  kala malam berselimut gelap. Ketika putus asa hampir menyapaku, datanglah Matcik membawa pinangan.Orangtuaku menyambut gembira pinangan tersebut. Bagaimana tidak senang, selain sudah mengenal kepribadiannya dengan baik, Matcik berasal dari kalangan yang sama denganku. Sama-sama bergelar Raden yang mendiami rumah limas alias orang kaya. Bonusnya lagi, Matcik berpendidikan tinggi karena mengenyam sekolah di Jawa.

Aku senang walaupun belum rela. Matcik itu sudah seperti kakak bagiku. Kami tumbuh besar bersama. Bermain, bercanda bahkan berantem sering kami lakukan. Terpisah ketika dia harus merantau ke Jawa untuk mencari ilmu. Perasaanku kepadanya hanya sayang seorang adik kepada kakaknya.

Jarak pinangan hingga ke akad nikah yang memakan waktu setahun belum juga bisa membuatku menata hati dengan baik. Matcik masih tetap sebagai seorang kakak. Aku bingung bagaimana caranya menempatkannya sebagai calon suami di relung hati. Mendekati bulan pernikahan aku sering dilanda perasaan cemas, was-was serta ketakutan yang tak jelas. Di sisi lain aku juga sangat bahagia. Aku dituku dengan emas 25 suku, aku juga mendapat hantaran songket tujuh turunan. Sebuah pinangan  megah yang menjadi dambaan anak gadis.

Perasaan yang bercampur aduk membuatku sering dihantui mimpi buruk. Sementara kalau siang, aku selalu dilanda kram perut yang membuatku tidak enak makan. Ketika ebok menanyakan siapa tetua yang akan kupilih sebagai tunggu jeroku, dengan ragu aku menyebut nama Wak Kiya, kakak tertua ema.

Keraguanku didasarkan pada sifat judes yang menjadi sifat Uwakku. Ucapan yang keluar dari mulutnya selalu tajam dan mengandung kebenaran, bisa membuat kuping panas dan sakit hati bagi yang mendengarnya. Tidak ada basa basi atau kata-kata puitis dalam kamus ucapannya. Walau judes Wak Kiya sangat perhatian dengan anak keponakannya.

Selain dengan ebok, Wak Kiya yang kupercaya untuk menampung keluh kesah. Aku perlu didampingi orang yang kupercaya dan bisa membuatku nyaman melewati fase pertamaku menjadi seorang istri.Wak Kiya juga disetujui oleh orangtua Matcik untuk jadi tunggu jeroku.

Hanya orang yang dipercaya kedua pihak keluarga yang bisa menjadi tunggu jero. Bukan perkara gampang untuk menjadi tunggu jero, cuma orang yang bermental kuat dan memiliki pengetahuan agama yang mumpuni yang bisa dipilih. Mental yang kuat diperlukan karena selain menjadi pendamping dan pelayan bagi pengantin perempuan, tunggu jero bertugas menemani dan mengajari pengantin perempuan melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri untuk pertama kalinya pada malam pakat, malam bersatunya suami istri dalam peraduan.

Walau bertugas mengajari pengantin melaksanakan kegiatan yang akan dicatat sebagai ibadah, bukan berarti tunggu jero menjadi penonton. Ia akan bersembunyi. Hanya suaranya saja yang menemani. Di dalam lemari atau di bawah ranjang menjadi tempat persembunyiannya.

Tunggu jero menjadi orang yang pertama tahu apakah pengantin perempuan masih perawan atau tidak ketika melewati malam pakat. Ia yang bertugas menghantarkan kain putih yang menjadi alas tempat tidur ke pihak keluarga pengantin laki-laki keesokan paginya. Jika kain putih ternoda darah maka itu pertanda pengantin perempuan masih suci. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, kain putihnya tetap putih tidak ada noda sama sekali maka kesucian pengantin perempuan patut dipertanyakan.

Selama menjadi tunggu jeroku, Wak  Kiya selalu memberi berbagai nasehat tentang bagaimana hak dan kewajibanku sebagai seorang istri nantinya. Namun sekalipun ia tidak pernah menyinggung apa yang harus kulakukan saat malam pakat nanti. Mau bertanya aku sungkan dan malu.Tidak tahu harus bertanya pada siapa.

Saat Wak Kiya memacariku, sahabat sekaligus sepupuku Saodah masuk ke kamar pengantin sambil menggendong anaknya yang berusia setahun.
“Makin cantik aja nih yang mau jadi pengantin,” goda Saodah yang kutanggapi dengan senyum kecil.

Melihat Saodah yang kerepotan membujuk anaknya agar tetap dalam gendongannya, tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran nakal. “Wak, aku haus, bisa tolong ambilkan minum?”pintaku. Sejujurnya, aku tidak haus. Hanya muslihatku untuk nengusir Wak Kiya secara halus.

Wak Kiya mengangguk  kepala. Dia langsung melangkahkan kakinya keluar kamar. Belum sempat aku memberi kode Saodah untuk mendekatiku, tiba-tiba muncul kepala Wak Kiya dari balik pintu yang membuat jantungku hampir copot.

“Saodah, jaga anakmu baik-baik. Jangan Kau biarkan turun dari gendonganmu. Aku takut nanti dia akan membuat pacar yang kupasang di kuku Nurma belepotan,” kata Wak Kiya dengan nada yang menjadi ciri khasnya, judes.

“Tenang saja, Wak. Akan kupegang anakku erat-erat,” kata Saodah berjanji.
Setelah yakin, Wak Kiya tidak akan nongol lagi, aku memberi kode agar Saodah mendekatiku. Dipasangi pacar, membuatku tidak bisa bergerak. Aku hanya duduk diam di kasur sampai daun hena yang ditaruh di kuku kaki dan tangan mengering. Makan dan minum pun aku disuapi Wak Kiya. Kalau banyak bergerak takutnya pacarnya belepotan.

“Ada apa sih? Kok kayaknya serius banget. Mumpung jadi tunggu jeromu, kamu bisa perintah Wak Kiya macam-macam. Kayak aku dulu. Waktu dipasangi pacar, aku minta Wak Kiya menggaruk dan memijat punggungku. Biasanya kita yang selalu disuruhnya untuk memijatnya,” ujar Saodah jahil.

Aduh, aku sungguh tak berminat mendengar ocehan Saodah.”Dah, bagaimana kamu melewati malam pakatmu?Apa yang harus dilakukan saat malam pakat?” tanyaku penasaran.

Saodah menatapku lekat-lekat, dengan nada bicara Wak Kiya, ia berkata, “Tabu bagi seorang gadis mengajukan pertanyaan seperti itu. Dan tidak patut bagiku untuk menceritakan sesuatu yang menjadi rahasia suami istri kepada orang lain.”
Mukaku jadi memerah mendengar kata-kata Saodah barusan. “Tidak usah khawatir, malam pakat bukan malam yang menakutkan. Justru malam yang membahagiakan. Mahkota yang kita jaga dengan sepenuh jiwa, kita serahkan kepada suami, orang yang akan memimpin kita mengarungi bahtera hidup,” ucap Saodah dengan nada yang lebih lembut.

Mahkota apa yang harus kuserahkan? Perasaan hanya raja atau ratu saja yang memakai mahkota. Aku ingin bertanya lebih banyak lagi, namun Wak Kiya sudah muncul sambil membawa segelas teh dingin dan semangkuk bubur kacang hijau, membuatku mengurungkan niat.

“Berhentilah menangis, sebentar lagi Matcik akan masuk ke dalam kamar. Melihatmu yang bersimbah air mata, tentulah akan membuatnya bingung. Malam ini malam pakat, malam yang sangat istimewa bagi sepasang anak manusia yang sudah diikat dengan tali pernikahan. Apa-apa yang diharamkan sekarang sudah halal untuk kalian lakukan. Malah itu terhitung ibadah,” bujuk Wak Kiya sambil menghapus airmataku.

“Apa yang harus aku lakukan?Aku takut, Wak!”
Sambil menghela nafas berat, mungkin kesal melihatku yang tidak berhenti menangis, Wak Kiya berujar “Manusia dilahirkan ke muka bumi ini dibekali dengan naluri yang menjadi penuntunnya untuk berpikir dan bertindak.

Kalau perutnya lapar, maka naluri akan mengajarinya untuk mencari sesuatu yang bisa menghentikan rasa lapar. Menikah adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan naluri manusia.Tidak ada yang perlu ditakutkan. Nalurimu yang akan menuntunmu. Asal kau ikhlaskan hatimu dengan seluas-luasnya. Jangan isi hatimu dengan praduga atau sesuatu yang tak jelas.

Seperti gelas, kalau sudah terisi, maka dituang air seteko pun tidak ada gunanya. Jadilah gelas kosong yang siap menampung air sebanyak-banyaknya. Dan jangan lupa, dibingkai dengan niat ibadah. Hapuslah air matamu, pasanglah wajah yang riang. Jangan seperti anak yang baru kehilangan orangtuanya. Bertampung murung sepanjang hari. Memasang wajah riang di depan suami, dapat pahala! Nah, kalau menangis lagi, aku tak mau membedaki lagi!”Gertaknya.

Belum selesai Wak Kiya membedakiku, pintu kamar diketuk halus. Aku menatap Wak Kiya dengan perasaan takut. “Wak, jangan tinggalkan aku sendirian,” bisikku lemah. Rasa takut sudah menghisap tenagaku.
“Sudah, jangan seperti anak kecil. Ingat, apa yang Wak katakan tadi. Ikhlaskan dan lapangkan hatimu,” Wak Kiya sambil berjalan untuk membuka pintu. “Jangan lupa pasang wajah ceria.Tarik bibirmu jangan cemberut seperti itu!”

Jantungku berdebur tak karuan.Tanpa kuminta, keringat langsung menyembur deras. Sapu tangan yang ada di genggamanku sudah berubah menjadi bola kecil akibat remasanku.

“Silahkan masuk, Pengantin!”Sapa Wak Kiya hangat.
Ada jeda sejenak sebelum suara batuk kecil yang memecah sepi terdengar, isyarat setuju. Dan detak jantungku makin tak keruan iramanya. Matcik!
“Ayo masuk, kenapa diam saja di luar?”Wak Kiya menarik lembut tangan Matcik dan membimbingnya duduk di pinggir ranjang.

Aku makin mengkerut di pojok dipan. Aku gigit bibirku kuat-kuat untuk menahan airmata yang sudah hampir jatuh. “Silahkan kalian ngobrol berdua, Wak mau ke belakang sebentar mau ambil air minum dulu!”

Wak Kiya langsung meluncur keluar tanpa sempat kucegah, meninggalkanku berdua dengan Matcik. Aku ingin pipis dan menangis dalam waktu bersamaan. Bajuku sudah basah dengan keringat. Aku begitu gugup dan takut.

Matcik berdehem sebentar.”Nur, di kamar pengantin ini ada hantu, ya?”
“A..apa?” Aku mengangkat wajah dan menatap Matcik bingung.
“Aku lihat mukamu begitu pucat ketakutan, makanya aku mengira kamar ini ada hantunya,” kata Matcik dengan nada bercanda sekaligus menyindirku.”Senyum, dong!”

Aku merasa otot-otot di sekitar mulutku kaku sehingga susah untuk ditarik ke atas. Teringat nasehat Wak Kiya dan ebok, aku paksakan diriku tersenyum walau mungkin lebih mirip ringisan. Dan dibalas Matcik dengan senyumannya yang memperlihatkan lesung di pipi kirinya. Hal itu membuat jantungku berdebar lembut dan mendamaikan hati dengan kehangatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

“Ada pisau tidak di sini?”tanya Matcik lagi.
Pisau? Untuk apa pisau? Aku ingin bertanya tapi mulutku terkunci. Aku menunjuk ke arah meja rias. Tempat Wak Kiya menyimpan pisau sehabis mengupaskan buah untukku.

Matcik mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Buah berwarna kuning yang ditutupi serbuk puyih halus. Dengan gesit, ia mengupasnya.
“Aku tahu kamu pasti lapar. Aku bawakan kesemek, buah kesukaanmu. Untuk mendapatkan buah ini, aku harus memaksa Tajuddin mencarikannya. Aku minta yang masak di pohon bukan peraman. Kamu masih ingatkan dengan Tajuddin?” kata Matcik sambil mengulurkan potongan kesemek kepadaku.

Walaupun aku tidak ingat siapa Tajuddin, kuanggukan juga kepalaku. Pelan-pelan, aku menggigit kesemek. Rasa manis yang menjalari mulutku sedikit banyak membantu menurunkan keteganganku.

Yang kuingat Matcik bukan orang yang gemar berkelakar. Dia itu pelit bicara namun malam ini dia terus-terusan ngoceh. Aku tidak tahu, apakah itu caranya untuk mengusir kegugupannya. Mendengarnya berbicara banyak hal membuatku sedikit nyaman dengan situasi ini.

Ketika Wak Kiya masuk, aku bisa melihatnya tersenyum lega.Wajahku sudah tidak tegang lagi, aku sudah bisa mengumbar senyum kecil. “Kalian pasti lapar, Aku minta disiapkan satu hidangan kecil untuk kalian.”

“Aku tidak lapar, tadi sudah makan kesemek,”ujarku cepat.
“Sekarang ini kamu sudah menjadi istri, bukan cuma perutmu saja yang harus diurusi tapi perut suamimu pun harus dipikirkan!”omel Wak Kiya.

Matcik hanya tertawa kecil mendengarku dimarahi Wak Kiya. Anehnya, aku tidak merasa marah atau tersinggung, justru perasaan senang bisa melihat Matcik tertawa.

Tak lama datang beberapa kerabat membawa bermacam-macam lauk pauk berikut dengan nasi minyak yang masih mengepul panas. Mereka menyusun hidangannya di lantai.”Nurma, layanilah suamimu makan! Wak tinggal dulu sebentar ya,”

“Wak mau kemana?”tanyaku.
“Mau tau aja urusan orangtua. Urus saja makan suamimu!” Judesnya Wak Kiya

Dan kami kembali berduaan di dalam kamar. Disaat aku bingung harus melakukan apa, Matcik tiba-tiba menyorongkan piring kosong di hadapanku.
“Tak bisalah perut kenyang kalau makanan cuma dipandangi saja.Ayo makan!”ajaknya.

Sambil mengunyah makanan, Matcik terus berceloteh dengan riang. Aku hanya menjadi pendengarnya saja. Suasana di antara kami semakin cair.
Ketika aku beranjak gadis, pergaulanku dengan anak laki-laki sangat terbatas. Tidak diperkenankan untuk berdua-duaan dengan laki-laki  yang bukan muhrimnya. Mengobrol pun hanya sekedar mengucap salam belaka. Bahkan walau sudah bertunangan pun, adat melarang untuk bergaul akrab.

Diam-diam aku bersyukur dengan kesempatan makan bersama yang diberikan Wak Kiya. Aku bisa sedikit mengenal Matcik, terutama caranya makan. Berbeda denganku yang suka membanjiri piring nasi dengan kuah sayur atau lauk, Matcik lebih suka membiarkan nasinya tetap kering. Ia hanya mengambil lauknya saja. Sepertinya ia tidak terlalu suka dengan makanan berkuah.

Setelah menyelesaikan makan malam, Matcik kembali bercerita. Kali ini tentang pengalamannya yang merantau di tanah seberang. Aku ikut terhanyut dalam kisahnya. Ah, sungguh beruntung dirinya bisa berkesempatan melihat negeri lain. Sementara aku hanya terkurung di kampung, tidak pernah kemana-mana.Aku ingin sekali melihat pulau seberang.

“Insya Allah, aku ingin mengajakmu ke Jawa. Mengenalkanmu dengan keindahan daerah lain.”janji Matcik.

Aku mengangguk sambil tersipu malu. Matcik seperti bisa membaca keinginanku. Apakah ini yang namanya sudah sehati? Kembali dadaku berdesir halus.

Setelah lebih dari satu jam meninggalkan kami berduaan di kamar, Wak Kiya muncul lagi. “Wak, kok lama sekali perginya?”rajukku.
“Sengaja, biar kalian bisa lebih lama ngobrolnya. Nah, sekarang apa sudah bisa dimulai?”
Pertanyaan Wak Kiya membuatku dan Matcik jadi salah tingkah.
“Maaf, saya permisi dulu ke kamar mandi,” pamit Matcik dengan muka pucat dan terburu-buru.

Wak Kiya menatapku tajam.”Nurma, sebentar lagi kamu akan melaksanakan tugas pertamamu melayani suami di ranjang. Pesan Wak pasrahkan hati dan dirimu pada suamimu. Turuti apa yang akan berlaku padamu. Kalau kami takut, ingatlah satu hal. Pahala yang dijanjikan Allah. Setiap sentuhan dan belaian yang dilakukan suamimu kepadamu akan menambah pundi-pundi pahalamu. Apa yang kalian nanti adalah ibadahnya suami istri!” pesan Wak Kiya.

Aku berusaha mencerna setiap kata dari nasehat Wak Kiya. Ini adalah ibadah dan berpahala, bisikku dalam hati untuk mengusir gugup dan ketakutanku. Dan ketika lampu mulai dipadamkan, ranjang pengantin sudah terbentang kain putih dan kelambu. Matcik duduk tepat di hadapanku. Wak Kiya sudah menyembunyikan diri di balik lemari.Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Tidak ada jalan lain selain memasrahkan diri.

“Kalau kamu belum siap, kita bisa tunda malam pakatnya,”kata Matcik dengan suara bergetar.
Aku menggeleng kepala, “Aku..aku sudah..siap!”

Ketika azan subuh berkumandang, aku sudah resmi menjadi wanita seutuhnya. Rasa bahagia merasuk di kalbuku. Sakit yang kurasa tidak sebanding dengan bahagia yang membuncah di dada.

Wak Kiya sudah pergi ke rumah orangtua Matcik membawa kain putih yang menjadi saksi persatuan diriku dengan Matcik untuk pertama kalinya. Aku harus segera berkemas, begitu matahari menampakkan diri, keluarga suami akan datang. Mereka akan membawa ketan kunyit panggang ayam, berbagai bentuk ketupat, serabi putih dan merah sebagai syarat adat tepung tawar karena Matcik telah membuatku berdarah semalam.

“Kamu sungguh beruntung, mertuamu memberi satu set perhiasan emas sebagai upa-upa penyeneng ati,” bisik Wak Kiya sambil menyanggul rambutku.
Selain membuat acara tepung tawar, setelah malam pakat, keluarga pengantin laki-laki juga memberi hadiah atau upah kepadaku karena semalam sudah diganggu oleh Matcik.

Aku hanya tersenyum lebar. Bukan karena mendengar akan mendapat satu set perhiasan emas tapi aku masih mengingat kejadian semalam yang begitu indah dan syahdu.
***

Resepsi sudah berlangsung siang tadi. Satu per satu tamu dan kerabat berangsur pulang. Walau kecewa tidak bisa menjadi tunggu jero untuk Melati, aku tetap berusaha  membantu semampuku. Seperti saat ini, aku membantu Melati membuka Aesan Gede yang dipakainya ketika duduk di pelaminan.

Ada yang menusuk hati ketika melepaskan songket, perut Melati terlihat menonjol. Entah sudah berapa bulan ia hamil. Beberapa kali aku melihat Melati berusaha menahan agar tidak muntah. Mukanya pucat dan kuyu. Tidak ada sinar kebahagian di matanya.

Aku mengulurkan segelas teh hangat kepadanya dan langsung diminumnya lahap. Entah karena merasa bersalah, Melati tidak berani memandang mataku. Melati sudah memilih sendiri suratan nasibnya. Ah, tinggal satu semester lagi ia akan mengenakan toga. Namun wisuda sebagai istri yang lebih dulu menghampirinya.

Aku tahu dari pagi perut Melati belum diisi dengan makanan, takut ia sakit, aku berinisiatif meng ambilkannya sepiring nasi. “Makan ya, nak!”

Melati menggelengkan kepalanya. Namun ketika aku menyodorkan sesendok nasi di depan mukanya, ia mau juga membuka mulutnya. Belum selesai ia mengunyah, tiba-tiba ia berlari ke kamar mandi. Melati memuntahkan isi perutnya.Buru-buru aku ambil kayu putih dan menggosokkannya di punggungnya.

Kesal sekali aku melihat tingkah laku Anto, suami Melati. Tidak ada sedikitpun perhatian yang diberikan Anto melihat istrinya muntah-muntah. Ia tampak santai dan sibuk memainkan HP. Keduanya tampak betul belum siap menjadi suami istri. Mereka mengikatkan diri atas dasar keterpaksaan. Ketika duduk di ranjang berdua, Melati dan suaminya saling membelakangi. Menenggelamkan diri dengan mengutak-atik HP masing-masing. Dengan raut muka yang kelabu.

Saat aku keluar dari kamar pengantin, tanpa sadar air mataku turun dengan deras.

Keterangan

Ebok : Panggilan untuk ibu
Ema : Berasal dari kata Rama, panggilan untuk ayah
Malam Pakat : Malam pertama untuk suami istri, dulu dalam adat Palembang dilaksanakan pada malam jumat.
Tunggu Jero : Tetua yang melayani  kebutuhan pengantin perempuan. Kalau dulu termasuk yang mengajari pengantin bagaimana caranya melakukan hubungan suami istri.
Pacar : Memasang daun hena di kuku kaki dan tangan
Nasi minyak : Nasi kebuli
Aesan Gede : Pakaian adat Palembang

Oleh : Emi Afrilia Burhanuddin

(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news.okezone@mncgroup.com)
(ful)

Sang Pengantin

Posted on Updated on

Kamis, 9 Januari 2014 – 21:01 wib | –

https://i1.wp.com/img.okeinfo.net/content/2014/01/09/339/924023/IFbFTQ6fCj.jpg
Galau. Itulah yang kurasakan sejak orangtuaku memutuskan untuk bercerai. Aku tidak mengerti mengapa orang yang sangat kusayangi harus berpisah. Berbagai rasa mengaduk perasaanku. Marah, kecewa, dan sedih bergumpal di dada. Aku kecewa pada diriku yang tidak bisa membuat orangtuaku tetap bersatu walau kutahu dengan pasti bahwa perpisahan mereka bukan karena salahku Read the rest of this entry »

Tak Ada Cinta untuk Aling Senin, 17 Maret 2014 – 21:01 wib | –

Posted on Updated on

Tak Ada Cinta untuk Aling

MEMBACA karangan siswa mengenai ibu membuat dadaku terasa sesak. Tiba-tiba saja aku merindukan ibuku yang ada di kampung. Rindu pada belaian, kelembutan, kasih dan juga kemarahannya. Aku memejamkan mata, coba menghadirkan sosok ibu dalam benakku hingga aku bisa merasakan sosok ibu ada didekatku dengan aroma tubuhnya yang khas. Read the rest of this entry »