Rumput di Kuburan Bapak

Walau tinggal satu kota namun aku sangat jarang bertemu dengan adikku. Maksudku pertemuan yang direncanakan. Kami lebih sering berjumpa tidak sengaja di lobi hotel atau ruang tunggu bandara.

Kesibukanku sebagai pengusaha dan akitivitas adikku sebagai wakil rakyat di Senayan menjadi pembenaran jarangnya kami bersua. Hanya telepon atau BlackBerry Messenger saja yang menjadi penghubung di antara kami ketika fisik tak sempat berjumpa.

Aku sangat senang ketika memasuki lounge maskapai langganan, aku melihat adikku ada di sana. Sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca koran.
“Mau terbang kemana?” tegurku sambil menghempaskan pantat di sofa.
“Bang!” Adikku terlihat gembira berjumpa denganku. Buru-buru diambilnya tanganku dan diciumnya dengan takzim. Biarpun sudah menjadi pejabat, kebiasaan mencium tanganku setiap kali berjumpa tidak pernah dilupakannya. Ibu sangat keras mengajarkan soal menghormati orang yang lebih tua. Rotan akan mendarat di paha jika membantah.

“Mau ke Palembang. Abang?”
“Kebetulan sekali aku juga mau ke sana. Mau melihat proggres proyekku. Tak puas kalau hanya dapat laporan tanpa melihat langsung. Kamu?”
“Biasalah, Bang. Mumpung lagi masuk masa reses jadi bisa melihat daerah pemilihan. Ada banyak program yang harus diluncurkan untuk mengikat konstituen agar tidak berpaling saat pencoblosan nanti,” jelas adikku sambil melipat koran.

Walau terbilang pendatang baru di dunia perpolitikan namun karier adikku termasuk gemilang. Kepiawaiannya bersilat lidah dengan argumen yang cerdas dan santun membuatnya kerap kali muncul di televisi mewakili partainya atau komisi yang didudukinya. Pendapatnya mengenai peristiwa politik yang terjadi di negeri ini bertebaran di media nasional. Wajahnya yang ganteng membuatnya menjadi idola kaum wanita. Bisa dibilang adikku itu politikus selebritis.

“Bilang pada Abangmu kalau logistikmu kurang,” kataku sambil menepuk bahunya.
Tidak bisa dipungkiri kemajuan bisnis yang kujalankan berkat kedudukan adikku sebagai anggota dewan. Banyak kemudahan yang kudapat. Tak perlu susah-susah ikut tender untuk mendapatkan proyek. Cukup adikku mengangkat telpon, proyek dengan mudah kuperoleh. Kalaupun harus melewati tender itu hanya formalitas belaka demi mengikuti prosedur biar tidak berurusan dengan KPK. Sebagai imbal baliknya, aku menjadi donatur untuk mendukung karier adikku di perpolitikan. Pengusaha dan pemegang kekuasaan bersatu menjadi simbiosis mutualisme yang sukar dikalahkan.

“Abang ada rencana menginap?”
Aku menggeleng kepala. “Jam delapan malam ada janji ketemu dengan investor dari Malaysia.”
“Aku mungkin menginap. Soalnya ada banyak acara yang harus kuhadiri,”jelas adikku tanpa kuminta. “Enaknya menginap di rumah ibu atau hotel ya?”

Aku terdiam. Ada perasaan bersalah setiap kali membicarakan ibu. Aku menyadari betapa kurangnya waktu dan perhatian yang kuberikan untuk wanita yang melahirkanku. Kesibukan menjadikanku budak waktu. Tak memberi jeda untuk sekedar bercakap-cakap sambil memegang tangannya yang keriput. Hanya transferan uang yang rutin menemui ibu dan sesekali telepon. Aku tidak bisa menghapus sepi ibu sepeninggal bapak.
Sejak bapak meninggal tiga tahun yang lalu, ibu hanya ditemani pembantu dan tukang kebun. Berulang kali aku dan adikku membujuknya agar tinggal bersama kami. Tapi ibu tidak bergeming sedikitpun.

“Untuk apa Ibu ikut kalian kalau masih harus merasakan sepi dan berteman dengan pembantu? Kamu, istrimu dan anak-anakmu sibuk dengan urusan masing-masing. Ibu hanya dianggap barang pajangan saja. Lebih baik ibu di sini biar bisa merawat makam bapakmu dan mengurus koleksi anggrek,”tolaknya.

Ibu benar. Kalau pun ibu ikut aku atau adikku, kami tetap tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk menemaninya. Hanya pagi hari sebelum berangkat bekerja saja kesempatan untuk mengobrol dengannya. Itupun masih diselingi dengan rutinitas menbaca koran. Istriku disibukkan dengan puluhan arisan yang harus dihadirinya. Sementara anak-anakku pun jadwal kegiatannya padat yang menyita waktu dari pagi sampai sore.

Perasaan bersalah makin menjadi karena ibu tak pernah menuntut apapun dari anak-anaknya yang telah sukses. Hanya waktu dan perhatian saja. Sayangnya hal itu sangat sulit aku penuhi. Setiap kali aku mentransfer uang, ibu selalu bertanya, “Banyak sekali kamu kirim uang untuk ibu. Apakah kebutuhan anak dan istrimu sudah cukup? Ibu tidak mengharapkan uangmu. Ibu kepengin kita bisa kumpul seperti dulu. Menikmati secangkir teh sambil ngobrol tanpa takut dibatasi waktu.”

Biasanya aku langsung berucap maaf. “Maaf bu, aku betul-betul sibuk akhir-akhir ini.”
“Tak perlu minta maaf. Ibu hanya ingin bernostalgia saja dengan masa lalu. Tak usah dipikirkan. Fokus saja pada pekerjaanmu. Jangan lupa jaga sholatmu dan kesehatanmu,” ibu menutup pembicaraan.

“Bang, jam berapa mau meninjau proyekmu,”tegur adikku membuyarkan lamunanku tentang ibu.
“Sekitar jam sepuluhan. Kita liat ibu, yuk!”ajakku. Ada kangen yang melintas di kalbu.
“Oke, tapi jangan beritahu kedatangan kita. Soalnya ibu suka merepotkan diri kalo tahu kita akan datang.”
***

Seperti biasa, ibu agak protes melihat kami yang muncul tiba-tiba di hadapannya.
“Kenapa tidak telepon dulu? Kan ibu bisa masak kesukaan kalian,” gerutunya dengan muka yang berseri-seri senang. Aku dan adikku bergantian dipeluknya dengan erat. Wajah kami pun tak luput diciumnya. Bertubi-tubi. Rambut kami yang tersisir rapi jadi berantakan karena diusap dan diacak-acaknya. Di mata ibu, kami adalah bayinya yang selalu diberi pelukan dan ciuman tanda sayang walau kami sudah dewasa.

Ibu segera memerintahkan Yu Ira, pembantu kami yang setia, untuk segera ke pasar membeli bahan makanan untuk membuat panganan kesukaan kami. “Ibu tidak repot. Melihat kalian makan dengan lahap masakan yang ibu buat merupakan kebahagian yang sangat besar untuk ibu,” kelitnya ketika adikku mau protes.

Mungkin ada benarnya juga, kerepotan dan kesibukan yang dilakukan ibu menyambut kedatangan anak-anaknya membuatnya merasa dibutuhkan lagi. Perasaan berguna itu memberi setetes bahagia di hati. “Sembari menunggu Yu Ira pulang dari pasar, gimana kalau kita nyekar ke kuburan. Kebetulan ini hari Jumat,”ajak ibu.
Adikku menatapku menunggu reaksiku.

Aku berpikir sejenak sambil memperhitungkan waktu yang akan dihabiskan jika nyekar ke makam bapak dan jadwal kerja yang harus kujalani hari ini. “Bisakan?”pinta ibu memelas. “Tidak akan makan waktu yang lama, Ibu janji!”lanjutnya seakan memahami kesibukan yang membelit anaknya.

Melihat muka ibu yang penuh harap, membuatku menganggukkan kepala. Tidak tega menolak permintaannya. Lagian sudah lama juga aku tidak nyekar. Terakhir kalinya ketika lebaran tahun kemarin.

Bukannya tidak sayang atau sudah lupa sama almarhum bapak membuatku jarang mengunjungi makamnya. Rasa sedih dan kehilangan akan muncul lagi di hati ketika melihat nisan yang bertuliskan nama bapak. Aku masih tidak menerima orang yang sangat kuhormati dan kusayangi sekarang berselimut tanah. Sendirian berteman gelap dan cacing tanah.

“Bapak, apa kabar? Ini kedua putramu datang!”kata ibu sambil mengusap batu nisan bapak. Tanpa menghiraukan kehadiran kami, ibu terus bermonolog. Menceritakan kesehariannya selama seminggu, bunga anggreknya yang terkena hama, telepon dari cucu serta kegembiraannya dengan kedatangan kami kepada nisan bapak.

Aku memalingkan wajah, miris melihat ibu yang bercakap-cakap dengan batu nisan. Seolah bapak masih ada. Tanpa sadar, aku berucap janji dalam hati untuk lebih meluangkan waktu menemani ibu.

“Bang, kok kuburan bapak banyak rumputnya? Seperti tidak dirawat saja,”bisik adikku.
Aneh sekali melihat kuburan bapak yang ditumbuhi rerumputan liar, kenapa ibu tidak menyuruh orang untuk membersihkan dan mencabuti tanaman liar tersebut. Setahuku setiap jumat ibu selalu berziarah ke makam bapak. Aku bersiap untuk menanyakan hal itu kepada ibu tapi keburu beliau bertanya, “Siapa yang akan memimpin baca doa untuk bapak?”

Adikku dengan gesit langsung menunjukku. “Abang kan kakak tertua jadi dengan ikhlas aku serahkan tugas memimpin doa padamu!”
Aku tak bisa mengelak lagi. Karena tidak terlalu hafal doa Bahasa Arab, maka aku baca doa pakai Bahasa Indonesia. Ibuku dengan khusyuk ikut mengaminkan apa yang aku ucapkan. Selesai berdoa, aku mencabuti rumput liar yang ada di makam bapak. Adikku pun ikutan mencabut rumput.

“Jangan kamu cabut rumput itu!”kata ibu sambil menepis tanganku.
“Kenapa tidak boleh? Rumput liar ini membuat kuburan bapak terlihat tidak terawat dan semrawut,”ujar adikku tidak mengerti.

“Tanah di sini keras dan berbatu. Tidak ada tanaman yang mau hidup di sini kecuali rumput-rumput liar ini,” terang ibu yang tidak bisa memuaskan rasa penasaran kami. “Ayo kita pulang!” Ajaknya. Ibu berjalan duluan. Aku dan adikku menyusul dibelakangnya.

“Suruh Karjo untuk mencari tukang agar menyemen dan memasang keramik di atas kuburan bapak. Biar tidak ada rumput liar yang tumbuh di atasnya,”ucapku setengah berbisik kepada adikku.

“Kalau perlu pasang keramik impor biar kuburan bapak terlihat mewah dan elegan’” adikku menambahi. “Apa komentar orang kalau liat kuburan bapak yang semrawut? Bisa hancur nama baik kita!”
***

Aku sedang memimpin rapat ketika adikku menelepon dengan suara panik. “Bang, cepat pulang! Ibu…”
“Ada apa dengan ibu?” buruku dengan hati yang waswas. Perasaan tidak enak mulai menjalari kalbu membuat perutku terasa mulas seperti ada yang meremas.

“Ibu. Kata Yu Ira, sejak pagi tadi ibu tidak pulang dari makam bapak. Ketika disusul, ibu sedang membongkar keramik yang baru kita pasang dengan tangannya. Ibu terus-terusan menangis dan tak mempedulikan tangannya yang berdarah. Beliau tidak mau diajak pulang sama Yu Ira. Abang, bisa pulang sekarang? Aku mungkin sore atau malam. Soalnya harus menghadiri rapat komisi,” ucapnya panjang lebar.

Telepon dari adikku membuatku menghentikan rapat dan buru-buru ke bandara untuk mengejar pesawat yang bisa segera membawaku ke Kota Pempek. Untung aku bisa mendapatkan tiket walau bukan kelas bisnis seperti biasanya.

Aku langsung menuju ke kuburan bapak setibanya aku di Palembang. Sebelumnya aku menelepon Yu Ira untuk menanyakan apa ibu sudah pulang ke rumah atau belum. Ada banyak tanya dan dugaan berkelebat dibenakku tentang perilaku ibu sebagaimana yang diceritakan adikku melalui telepon. Apakah ibu tidak suka dengan keramik yang kami pasang di atas kuburan bapak?

Jika tidak suka, beliau bisa mengutarakannya padaku atau adik. Biar tukang yang akan membereskannya dan mengganti warna atau model keramik yang disukai ibu. Tak perlu ibu sendiri yang membongkarnya. Memang kami tidak memberitahu ibu soal rencana untuk memasang keramik di atas kuburan bapak. Kami bermaksud memberi kejutan untuk ibu. Kami berharap, ibu senang melihat kuburan bapak menjadi rapi tidak ada rerumputan liar diatasnya. Namun reaksi ibu sungguh diluar dugaan.

Ada pemandangan yang memilukan ketika aku sampai di kuburan bapak. Ada perempuan tua dengan kerudung acak-acakan sehingga sebagian rambutnya kelihatan, muka yang belepotan tanah dengan mata sembab berusaha mencopot keramik dari Italia yang terpasang di àtas kuburan bapak. Perempuan itu tak menghiraukan teriknya sinar matahari yang siap memanggang kulitnya. Dengan batu di tangan, ia sibuk memukul-mukul keramik agar hancur. Aku jongkok di sampingnya. Ibu.
“Kenapa ibu seperti ini? Kenapa kuburan bapak dirusak?” tanyaku dengan suara bergetar. Aku ambil batu dari tangan ibu dan membuangnya. “Kalau ibu tak suka, akan aku ganti keramiknya agar sesuai dengan keinginan ibu.”

Ucapanku seperti dianggap angin lalu. Ibu berdiri dan memungut batu yang kubuang lalu kembali memukuli keramik yang  masih tersisa.
“Ibu, berhentilah bertingkah laku seperti ini!”pintaku.
“Maksudmu seperti orang gila? Jangan khawatir, ibu masih waras. Ibu melakukan ini karena rasa bersalah ibu pada bapakmu!”ujarnya sedikit sengit.

“Aku tidak paham apa maksud ibu.”
Ibu menatapku tajam. Ada kedukaan yang terpancar di sorot matanya. “Berapa kali kamu sholat dalam sehari?”
Aku makin tidak mengerti. Apa hubungan ini semua dengan sholat yang aku lakukan.
“Jawab!” Ibu setengah membentakku.

Sambil menggaruk kepala yang tidak gatal aku berkata dengan agak malu, “sesempat dan sebisanya saja. Memang tidak genap lima waktu tapi aku usahakan setiap hari tetap sholat.”

Ibu menghela nafas panjang. Mukanya bertambah gelap dan sedih. “Menurut ukuran dunia, ibu termasuk sukses dalam mendidik anak. Kamu bisa menjadi pengusaha yang sukses, adikmu jadi politisi hebat dan terkenal. Tapi kalau memakai ukuran akhirat, ibu gagal. Tidak bisa mendidik kalian menjadi anak yang soleh.

Bagaimana ibu bisa berharap kalian rutin mengirimkan doa kepada bapakmu sementara kewajiban sebagai hamba saja kalian lalaikan atas nama kesibukan?” Ibu kembali berurai air mata. “Karena itu ibu menghancurkan keramik di atas kuburan bapak yang kalian pasang tanpa pemberitahuan. Agar rumput liar bisa tumbuh dengan subur. Ya, hanya rumput-rumput ini yang rajin berkirim doa kepada bapakmu. Ketika angin bertiup, rumput ini akan bertasbih memberi cahaya pada bapakmu di alam kubur.

Sementara kalian dilenakan mengejar dunia. Selama angin  masih berhembus, rerumputan ini akan terus melantunkan kidung pujian untuk Allah dan jadi penolong untuk bapakmu. Ibu mohon, biarkan mereka tumbuh subur di atas pusara bapakmu!”

Aku diam mematung. Tak mampu berucap satu kata pun.

Oleh : Emi Afrilia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s