Jalan Tak Berujung

Foto:Sindyisme.blogspot.com

SEBISA mungkin aku menghindari keluar rumah saat matahari mulai beranjak ke arah barat. Bukan karena takut dengan sinar matahari yang menyengat membakar bumi. Aku takut jika harus berpapasan dengan rombongan para ibu yang hendak berangkat ke masjid untuk mengaji. Bukan takut, lebih tepatnya ada perasaan malu yang menghinggapi relung hatiku.

Saat meletakkan pakaian kering di kamar, aku mendengar suara tawa kecil dari halaman rumah. Karena tergesa-gesa mengangkat pakaian, aku jadi lupa mengunci pintu dan makhluk kecil yang menjadi asuhanku sudah berada di luar rumah. Aku mengambil piring berisi nasi yang ada di atas meja.

Dengan terseok-seok, aku mencoba mengejar Azka, cucuku yang berlari kian kemari seperti anak kijang. Aku harus bergegas menangkapnya sebelum ia berlari ke jalan yang penuh dengan kendaraan bermotor yang bisa membahayakan keselamatannya. Bocah empat tahun itu amat lincah dan gesit berlari ke sana ke mari, ia seakan tidak peduli dengan aku yang sudah kepayahan mengejarnya.

“Nek, cini” Azka melambaikan tangannya menyuruhku mendekatinya.
Aku menggelengkan kepala. Aku sudah tidak kuat lagi mengejarnya. Nafasku sudah tersengal-sengal membuat dada terasa sesak dan pengap.
“Yuk, kita makan di dalam aja. Nanti nenek puterin film Spongebob!” rayuku sambil menuntun Azka untuk masuk ke dalam rumah.

Saat akan masuk, serombongan ibu-ibu yang berpakaian putih  lewat di depan rumah.
“Ayo, Bu Halimah, ngaji ke masjid!”ajak seorang ibu padaku.
Dengan muka memerah, aku menggeleng kepala. “Maaf Bu, saya tidak bisa. Harus momong cucu,” kataku dengan suara pelan.
Ibu-ibu itu pun mengangguk, entah berusaha memaklumi memahami alasanku atau cuma karena iba.

“Aduh, kasihan sekali. Sudah tua tapi masih saja disibukkan urusan dunia. Momong cucu. Seharusnya lebih memikirkan persiapan untuk akhirat nanti. ” Begitu komentar sinis yang sempat kudengar sebelum rombongan ibu-ibu  pengajian itu berlalu dari hadapanku.

Hatiku pun seperti tersengat mendengar komentar itu. Ada perih yang mengiris kalbu. Aku tidak bisa marah karena komentar tadi mengandung kebenaran. Ya, di usia yang menginjak angka 60 tahun seharusnya aku lebih menyibukkan diri dengan urusan bekal akhirat. Kalau waktuku hidup didunia seperti halnya nabi yang hanya 63 tahun, itu berarti ada masa tiga tahun untuk berjibaku menambah berat pundi-pundi amal kebaikan. Bukan berkubang dengan kencing cucuku.

“Nek!” suara Azka yang kecil dan nyaring membuatku harus menghentikan kesedihan yang kurasakan. Aku tidak ingin menulari kesedihan kepada cucuku.
Aku menggenggam tangan Azka dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Aku terkesiap melihat jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga. Masya Allah, Aku belum melaksanakan salat dzuhur! Sementara itu Natan yang baru bangun tidur menangis menjerit-jerit minta digendong.
***

Impianku sangat sederhana, ingin menikmati masa tua dengan memperbanyak ibadah. Aku telah menghantarkan keempat anakku ke pintu gerbang pernikahan. Anak-anakku menikah dengan pilihannya yang telah kuberi restu sepenuh hati dan mereka pun berbahagia dengan pilihannya.

Aku juga telah membekali mereka dengan pendidikan sampai ke tingkat universitas agar mereka bisa menjalani hidup. Pengabdianku sebagai seorang istri juga kutunaikan dengan tuntas hingga mendampingi suamiku menghadap Sang Khalik lima tahun yang silam. Pengabdian itu terus kulakukan dengan selalu menyelipkan doa-doa terbaik untuk suamiku dalam setiap sholat dan dialog dengan Allah saat malam-malam sepi yang kulalui sendiri.

Kehadiran cucu membawa bahagia  yang tak terkira. Tapi juga menjadi awal pengabdian baru untukku. Setelah tiga bulan melahirkan Azka, anakku Teti harus kembali bekerja. Bersama suaminya ia berkeliling dari satu agen babysitter ke agen yang lain untuk mencari sosok yang tepat untuk merawat Azka. Belum genap usia Azka 6 bulan, sudah hampir selusin ia bergonta-ganti babysitter.

Tidak ada yang benar-benar punya hati untuk merawat bayi. Semua hanya berorientasi mencari uang. Akibatnya, berulangkali Azka harus masuk ke rumah sakit karena babysitter-nya teledor mengasuh. Mulai dari diare karena pengasuhnya lupa mensterilkan botol dot hingga Azka terjatuh saat digendong.

Dengan muka sembab, Teti datang kepadaku sambil membawa Azka. Aku masih ingat saat ia berkata,”Ibu, aku tahu apa yang kulakukan ini salah. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku minta tolong sama ibu agar mau mengasuh Azka saat aku bekerja sampai aku mendapat pengasuh yang tepat.”

Karena sayangku yang besar pada Teti, aku menganggukkan kepala. Lagian, aku juga tidak rela melihat cucuku diperlakukan semena-mena oleh orang lain. Aku pun mengundurkan diri dari beberapa pengajian. Untuk beberapa bulan saja, demikian hiburku. Toh, kalau Azka sudah dapat pengasuh maka aku bisa aktif lagi di pengajian. Dan Aku hanya akan mengawasi saja Azka diasuh oleh babysitter. Ibu mertua Teti sudah sakit-sakitan sehingga tidak bisa diminta tolong untuk mengasuh Azka.

Ternyata yang katanya hanya beberapa bulan saja menjadi bertahun-tahun. Bukan karena Teti tidak berusaha mencari pengasuh, ia terus berusaha tapi belum menemukan babysitter yang sesuai dengan yang diinginkannya. Kalaupun ada yang terlatih, biasanya meminta gaji yang tinggi. Teti dan suaminya tidak sanggup karena mereka sudah mulai mencicil sebuah rumah mungil dan motor.
Setiap pagi, Azka diantar ke rumahku dan sore harinya ia baru dijemput. Jika Teti harus lembur, Azka dibiarkan menginap. Ada Azka di rumah, aku merasa sangat terhibur. Hariku lebih berwarna. Tidak muram sepeninggal suamiku. Aku merasa mendapat semangat untuk hidup lagi. Ada alasan kenapa aku harus tetap hidup didunia ini lagi. Aku merasa dibutuhkan lagi.

Perasaan dibutuhkan sudah lama tidak kurasakan. Ketika anak-anakku beranjak besar, mereka mempunyai dunia sendiri dan tidak terlalu membutuhkan diriku lagi. Hanya ketika mereka ada masalah atau kesulitan, baru mereka datang kepadaku. Membutuhkanku untuk membasuh kegundahan mereka.

Dulu aku mengasuh keempat anakku sendiri tanpa bantuan pengasuh ataupun orangtua. Aku mendampingi anak-anakku dalam setiap momen kehidupannya. Aku yang menuntun mereka ketika langkah kecilnya belajar menapak bumi. Aku juga yang mengajari mereka berbicara, mengajari mengunyah makanan padat pertamanya. Saat itu aku masih muda. Tenagaku cukup besar untuk mengasuh anak-anakku.

Sekarang tubuhku tidak sekuat dulu. Aku tidak bisa mengimbangi kelincahan Azka yang aktif bergerak seperti ulat bulu mengeksplorasi rasa ingin tahunya yang besar. Seolah-olah akan menaklukkan dunia. Sementara aku hanya punya tenaga sisa yang terkadang untuk menopang diri sendiri saja sudah kepayahan. Cuma karena tidak ingin membuat anak-anakku khawatir maka aku selalu berusaha tampil gagah dan sehat. Mengasuh membuatku tidak punya banyak waktu untuk beribadah. Saat azan berkumandang aku masih sibuk mengurusi Azka dengan segala tetek bengeknya.

Lupakan sholat sunah, bisa sholat lima waktupun sudah bersyukur. Aku selalu sholat di akhir waktu dan itupun harus terburu-buru karena Azka sibuk mengganggu kekhusyukan dengan tingkahnya yang konyol. Setelah itu hanya doa pendek yang bisa kulantunkan. Tidak ada zikir ataupun puji-pujian yang sempat keluar dari mulutku. Alquran pun sudah dipenuhi debu tebal menandakan sudah lama aku tidak membacanya. Aku disibukkan berpacu dengan waktu mengasuh Azka.

Hal itu yang membuat aku sering menangis dalam hati. Aku sudah tua tapi amalku sangat sedikit. Ibadahku kurang dan berantakan. Aku pernah mengutarakan keinginanku pada Teti agar berhenti saja bekerja dan fokus mengasuh anak. Biarlah urusan mencari nafkah menjadi tanggung jawab suaminya. Teti pun mencoba menuruti saranku, sebelum memutuskan untuk resign, Teti mengambil cuti panjang.

Belum ada seminggu ia mengasuh Azka, Teti sudah datang ke rumah. Mukanya kusut dan acak-acakan. Azka juga badannya biru-biru bekas kena cubitan. “Ibu, lebih baik aku disuruh kerja apa saja asal jangan disuruh mengasuh Azka. Aku tidak sanggup. Aku jadi stres dibuatnya,” keluh Teti.

“Apa karena itu Azka sering kau cubit?”
“Azka tidak nurut sama omonganku, makanya aku sering dibuat jengkel dan….”
“Azka kena cubit?” potongku tajam.
Teti hanya terdiam menunduk.
Aku heran dengan orangtua jaman sekarang yang gampang sekali melayangkan pukulan atau cubitan kepada anaknya. Sedikit saja anak melakukan kesalahan, seribu cacian dan makian akan keluar dari mulut orangtua yang akan digenapi dengan cubitan atau pukulan.

Seingatku, aku tidak pernah melayangkan pukulan kepada anak-anakku. Bagiku menyakiti mereka sama saja menyakiti diriku karena mereka berasal dari rahimku.
Aku tidak ingin menjadikan anakku orang yang menyakiti darah dagingnya, makanya aku kembali mengasuh Azka. Ketika Azka berusia tiga tahun, anak keduaku, Toni memberiku cucu lelaki yang sehat dan ganteng, Natan.

Ketika cuti melahirkan menantuku usai, sebelum ia kembali bekerja, ia dan Toni datang ke rumah. Tanpa harus bilangpun aku tahu maksud mereka. Mertua perempuan Toni sudah lama meninggal, sehingga tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk menjaga Natan. Aku sudah bertekad untuk  menolaknya. Aku tidak sanggup jika harus mengasuh dua balita. Biarlah uang pensiun suamiku akan kuberikan pada Toni, untuk membantunya membayar seorang babysitter.

Aku tidak bisa berkata-kata ketika Toni berujar, “Jika Ibu tidak mau mengasuh anakku berarti ibu pilih kasih. Ibu lebih sayang dengan anaknya Mbak Teti ketimbang anakku!”

Dengan berat aku menganggukkan kepala, menyetujui mengasuh Natan. Aku tidak ingin dicap sebagai ibu yang pilih kasih. Aku tidak ingin melukai hati anakku. Dan sholatku pun jadi makin berantakan, jauh dari kata khusyuk.

Ketika kedua cucuku dijemput oleh orangtuanya, aku baru bisa beristirahat sejenak. Di depan cucu dan anak, aku bisa berpura-pura gagah. Tapi saat malam berselimut gelap, aku baru merasakan capek di sekujur tubuh. Badanku seperti remuk, tulang-tulangku seperti tak bertenaga dan mau lepas. Tubuhku yang renta tidak bisa berbohong. Dan tanpa terasa airmata akan menetes dari pelupuk mata. Aku sedih karena tidak punya banyak waktu untuk beribadah, aku juga sedih tidak punya banyak tenaga untuk mengasuh kedua cucuku. Aku tidak bisa menentang kehendak alam, badan yang menua dan tenaga berkurang.

Hanya kasihku yang tidak pernah menua dan berkurang.Kasihku kepada anak dan cucuku selalu ada sepanjang jalan hidupku. Dan selama aku masih bernafas, jalan itu tidak akan pernah berujung.

Oleh : Emi Afrilia Burhanuddin

Posted on in WWW.Okezone.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s