Uncategorized

Kompak Terkena Campak

Posted on

img_20141008_065555_wm
Dzaki menikmati pagi di taman RS DKT Lahat

Tak putus dirundung campak mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi ketiga anak saya yang kompak terkena campak. Satu anak yang kena aja sudah bikin puyeng kepala apalagi kalo ketiga-tiganya yang kena. Hm…betul-betul syesuatuuu..

Read the rest of this entry »

Advertisements

Nak, Bobok Siang Yuk!

Posted on Updated on

1481892861336“Bu, Aku mau ke wc dulu. Tadi belum pipis,” kata Dzaki meminta ijin.

“Mbak Nuha juga belum pipis!”timpal Nuha.

Dengan mata setengah memejam, saya bilang, ” Oke, tapi ke kamar mandinya ga pake lama dan ga main air ya!”

Ga sampai lima menit Dzaki dan Nuha sudah balik ke kamar lagi.

Read the rest of this entry »

Pe-er Untuk Bank Syariah

Posted on Updated on

bi syariah“Mbak, temani saya ke bank syariah, ya?” Kata seorang sahabat melalui telepon. “Ga boleh nolak. Mbak yang ngeracuni saya soal KPR di bank syariah. Makanya saya jadi tertarik untuk ngambil juga.” Read the rest of this entry »

Yuk, Sedekah Air Untuk Masjid dan Sekolah

Posted on Updated on

1442563705266

Kemarau punya banyak cerita. Bagi yang tinggal di Jambi, Riau, Palembang serta Pulau Kalimantan musim kemarau identik dengan kabut asap. Masyarakat seperti hidup di negeri asap. Dimana-mana kabut asap mengepung, bahkan didalam rumah. Menghirup udara bersih dan segar jadi barang langka. Penyakit ISPA merebak di masyarakat. Read the rest of this entry »

Pengalaman Ketika Melempar Jumroh

Posted on

DSC09637
Suami bergaya didepan terowongan sesudah melempat jumroh

Sedih banget ngeliat banyak  orang  berkomentar menyalahkan pemerintah Arab Saudi dalam musibah di Mina yang menelan korban ratusan jamaah haji. Padahal yang bersangkutan belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Baitullah. Berkomentar berdasarkan berita-berita hoax yang ga jelas juntrungannya. Read the rest of this entry »

Rindu Yang Terus Membara

Posted on

DSC09657Ketika masih duduk dibangku SMA, saya suka heran dengan Emak sama Emang (Nenek dan Kakek) yang  menangis saat nonton siaran langsung Solat Idul Adha dari Masjidil Haram. Padahal beliau sudah pernah menunaikan ibadah haji tapi kok masih aja mengharu biru jika melihat siaran itu. Menurut saya, harusnya yang menangis itu adalah orang yang belum pernah menginjakkan kaki ke Baitullah. Tangisan rindu yang tak tersampaikan.

Sambil menangis Emak berkata “Masih terbayang-bayang dipelupuk mata ketika melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah, berlari-lari kecil saat sa’i.” Lalu Emak akan kembali bercerita  tentang pengalamannya berhaji secara lengkap. Cerita Emak itu sering diulang-ulangnya tapi saya tidak pernah bosan mendengarnya. Diujung cerita Emak selalu ngomong “Kalau ada rejeki dan kesempatan lagi, saya ingin kembali ke Baitullah.”

Bukan cuma Emak dan Emang yang berkata begitu. Hampir setiap orang yang pulang haji selalu berucap bahwa ingin kembali lagi kesana. Entah berhaji lagi atau umroh. Sepertinya ada magnet kuat yang menarik orang untuk kembali lagi ke Baitullah. Badannya di Indonesia tapi hati dan jiwa selalu merindu untuk datang lagi sebagai tamu Allah.

DSC09556DSC09557DSC09534

Dan ketika saya bersama suami diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2013, saya baru tau kenapa orang-orang yang sudah pernah berhaji atau umroh selalu ingin mengulang kembali. Ada kenikmatan beribadah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Hanya bisa dirasakan dan dinikmati.

DSC09538DSC09558DSC09635

Dan malam ini ketika menonton tayangan live event wukuf di Arafah, tangisan rindu kembali pecah. Hanya mampu berdoa semoga diberi kesempatan untuk menjadi tamu Allah lagi.