Seperti Pantulan Bola

contoh pergerakan bola yang memantul dari tempat yang tinggi dan mengalami gaya sehingga bolayang memantul semakin memelan. sumber :Faydewi.wordpress.com

Seorang sahabat mengatakan bahwa berbuat baik itu seperti melempar bola ke atas. Bola yang dilempar itu akan memantul kembali kepada si pelembarnya atau orang yang berada disekitarnya. Pantulan bola itu tidak cuma sekali tapi bisa berkali-kali. Tergantung tenaga yang dikeluarkan saat melempar bola. Makin kuat tenaga yang digunakan saat melempar makin kuat pula pantulan yang dihasilkannya.

Ada yang begitu dilempar, bolanya segera memantul. Tapi ada juga yang menunggu waktu bertahun-tahun agar memantul kembali kepada si pelemparnya. Kadang juga bola itu malah memantul kepada anak keturunan si pelembar. Tanpa perlu bersusah melempar, mereka menikmati pantulannya.

Adalah hak Allah untuk menentukan kapan waktu yang tepat bola itu memantul. Allah tahu kapan saat kita butuh pantulan dari kebaikan yang sudah kita perbuat. Kadang Allah sengaja menyimpan balasan kebaikan yang kita buat untuk anak keturunan di masa yang akan datang. Itu karena Allah Maha Tahu kebutuhan hamba-Nya. Ada yang dibalas tunai di dunia, ada yang dibalas di akhirat dan ada juga yang dibalas di dunia serta akhirat nanti.

Tugas kita sebagai hamba adalah menebar kebajikan sebanyak mungkin, menjadikan diri bermanfaat untuk sesama. Dari pada memikirkan dan menunggu pantulan bola yang kita lempar, lebih baik kita melempar bola sebanyak-banyaknya. Dengan begitu kita melatih diri untuk ikhlas saat berbuat baik. Hanya berharap sama Allah semata.

Cerita sahabat saya dibawah ini contoh bagaimana pantulan bola atau buah dari kebaikan itu berbalas. Lima belas tahun yang silam, orangtua sahabat saya ini berniat memasang sumur bor. Alasannya karena saat itu air pam sering tidak lancar. Tetangganya pada mencemooh dengan mengatakan bahwa air sumur bornya berasal dari air orang yang sudah meninggal. Itu dikarenakan rumah sahabat saya itu cuma berjarak beberapa puluh meter dari komplek pekuburan.

Walau banyak dicemooh, sumur bor tetap dipasang. Air yang mengalir dari perut bumi sangat bening dan tidak berbau. Saat air pam tidak mengalir, tetangga yang awalnya mencemooh tanpa malu meminta air dari orangtua sahabat saya dan dengan senang hati diberikan secara gratis. Setiap ada hajatan atau musibah dikampung, beliau membantu dengan mengalirkan air dari sumur bornya tanpa meminta bayaran sama sekali. Kalau ada tetangga yang mau membayar air yang sudah diberikan akan ditolaknya mentah-mentah. Bahkan ada satu tetangga yang dibagi air bertahun-tahun sampai mampu memasang ledeng sendiri. Itu juga tidak dimintanya bayaran.

Pernah sahabat saya ini mempertanyakan kenapa orangtuanya menolak uang dari tetangga yang sudah menikmati air sumur bor mereka. Jawaban orangtuanya sungguh sederhana, “Biarlah ini jadi amal untuk simpanan di akhirat nanti. Alhamdulillah dengan air ini bisa jadi alat untuk menolong tetangga. Lagian airnya juga gratis dari Allah. Kan makin sering diambil dan dibagikan, airnya juga akan semakin bagus.”

Tidak ada yang menyangka bahwa dikemudian hari sahabat saya ini akan mengalami kesulitan air saat musim kemarau tiba. Tinggal di kota kecil membuatnya harus menggunakan sumur sebagai sumber air dirumahnya. Saat musim penghujan air sumurnya berlimpah. Kalau kemarau panjang seperti ini, sumurnya kering kerontang.

Mau beli air, sahabat saya ini tidak sanggup. Karena harganya yang gila-gilaan mahal. Satu tangki yang berkapasitas seribu liter dihargai Rp.350 ribu. Padahal kalau tidak kemarau harganya cuma Rp.70 ribu. Dan sahabat saya ini sehari bisa menghabiskan air 250 liter untuk kebutuhan rumah tangganya. Bisa dibayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan per bulan kalau harus membeli air. Bisa habis gaji suaminya untuk beli air saja.

Untunglah, ada tetangganya yang berbaik hati mau membagi air sumurnya yang tidak kering. Karena sungkan meminta terus, sahabat saya memberi uang kepada tetangganya atas air yang diterimanya. Dan ditolak tetangganya. Dengan mata basah, sahabat saya berkata: “Kebaikan yang dilakukan orangtua saya dulu, kini saya yang menerima balasannya secara tunai. “


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s