Full Day

https://i2.wp.com/jamilazzaini.com/wp-content/uploads/2014/02/emi-afrilia.jpg

Saat bertandang ke rumah seorang sahabat, saya sempat tertegun menyaksikan kondisi putranya yang pulang sekolah langsung mengeluh kepalanya pusing. Mukanya tampak kusut dan lelah. Tidak ada kegembiraan yang terpancar dari wajah bocah berumur sembilan tahun itu. Setelah mencium tangan kedua orangtuanya, sambil menyeret tas yang super besar si anak langsung masuk ke kamar.

Ketika ada temannya yang mengajak main, sahabat saya berkata bahwa anaknya mau beristirahat dan tidak bisa bermain bersama, lagian sebentar lagi akan magrib. Yap, anak sahabat saya ini pulang sekolahnya jam lima sore. Tiba dirumah jam setengah enam sore. Persis pegawai kantoran.

Kepo membuat saya mengajukan pertanyaan apakah tidak bermasalah menyekolahkan anak dengan sistem full day? Dengan enteng sahabat saya menjawab bahwa anaknya dari usia tiga tahun telah terbiasa dengan sekolah full day, daripada dia menghabiskan waktunya bermain lebih bermanfaat berlama-lama disekolah. Semua ini demi masa depannya kelak.

Mungkin benar bahwa si anak telah terbiasa seharian disekolah tapi bagaimana dengan kemampuan fisik dan psikisnya? Keluhan sakit kepala ketika pulang sekolah mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem tubuhnya. Otak dan tubuhnya dipaksa untuk bekerja melebihi kemampuan normalnya. Analisa ini didasarkan dari pengalaman suami saya yang suka pusing jika pekerjaan kantornya menumpuk dan menuntutnya bekerja lebih keras.

Terkadang tanpa disadari kita menjadi orangtua yang dzolim pada anak. Dengan berdalih menyiapkan masa depan yang lebih baik untuk anak, kita membebani anak dengan sekolah full day, berbagai macam kursus atau kegiatan olahraga.

Belum ditambah dengan kegiatan mengaji. Jadwal kegiatan anak dibuat padat dan banyak. Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Menukar hak bermain dengan kegiatan yang menguras otak dan energi. Padahal masa anak-anak adalah masa bermain, mengeksplorasi dan mengekspresikan diri. Senyum dan tawa harusnya menjadi bagian dari wajah anak, bukan dahi yang berlipat atau bibir yang cemberut.

Orangtua lebih rela mengeluarkan uang yang banyak demi mengikutkan berbagai kursus daripada melihat anak bermain. Sepertinya bermain hanya menghabiskan waktu dan tidak bisa menjamin masa depan yang cerah.

Bermain adalah fitrah seorang anak. Jangan hapus hak itu dengan berbagai macam kursus atau kegiatan. Walau otak anak seperti spon yang bisa menyerap apa saja, bukan berarti kita bisa menuangkan pengetahuan bersamaan. Harus bertahap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak. Bermain menjadi jeda dan hiburan anak untuk melewati tahapan pendidikannya dengan kegembiraan. Dengan bermain, anak bisa belajar mengenal dirinya dan lingkungannya serta mengekspresikan perasaannya juga bersosialisasi.

Kursus atau kegiatan olahraga boleh dilakukan selama hak bermain anak tidak dihilangkan. Sebagai orangtua, kita yang harus paling mengerti kondisi dan minat anak. Jangan karena ikutan trend atau gengsi orangtua, kita memaksa anak dengan aneka ragam kursus. Walau mungkin bermanfaat tapi anak tidak bahagia menjalaninya. Waktu bermainnya hilang. Perasaan tidak bahagia akan membuat proses penyerapan pelajaran jadi lambat.

Sekolah, kursus atau kegiatan ekstra kulikuler hendaknya memperlebar senyum diwajah anak bukan membuat dahinya berlipat. Dengan alasan kasih sayang dan demi masa depan bukan berarti kita boleh mendzolimi anak. Bagaimana masa depan anak akan cerah kalau masa kecilnya tidak bahagia dan penuh beban?

Emi Afrilia Burhanuddin

Posted on 11/02/2014 di WWW.jamilazzaini.com

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Full Day

    Merida Merry said:
    September 7, 2015 at 6:33 am

    aku juga kurang sependapat mba dengan orang tua yang mengisi hari-hari anaknya dengan kegiatan belajar sehari penuh, sehingga merampas hak mereka untuk bermain dan bersosialisasi, pengennya sih berimbang aja, jadi anak tidak stress dengan aktifitas mereka.

    btw, mba asli lahat ya ?
    waktu kecil aku pernah satu tahun tinggal di lahat. Ayahku asli Prabumulih mba.
    salam kenal ya 🙂

      Emi Afrilia responded:
      September 10, 2015 at 8:55 am

      Masa kanak-kanak adalah masa bermain sambil belajar. Jadi biarkan anak menikmati masa kecilnya dengan bahagia, ya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s