Pe-er Untuk Bank Syariah

Posted on Updated on

bi syariah“Mbak, temani saya ke bank syariah, ya?” Kata seorang sahabat melalui telepon. “Ga boleh nolak. Mbak yang ngeracuni saya soal KPR di bank syariah. Makanya saya jadi tertarik untuk ngambil juga.”

Ngeracuni? Kayaknya enggak deh, saya enggak meracuni. Kalo memprovokasi, itu baru bener he..he….

Soalnya saya ga mau pengalaman pahit saya terulang ke sodara dan sahabat. Tahun 2006, saya (lebih tepatnya sih suami) mengajukan KPR ke bank konvensional. Biar enteng cicilannya, suami ambil kreditnya yang jangka panjang, 15 tahun. Setahun berjalan, cicilannya flat. Nah, masuk tahun kedua dan seterusnya, cicilannya naik turun. Tergantung suku bunga yang berlaku saat itu. Kalo bunga sedang naik, itu cepet banget cicilannya nambah. Tapi kalo bunga sedang turun, kok ga otomatis cicilannya turun. Baru bulan depannya cicilannya turun.

Awalnya cicilan kami cuma 1,1 juta. Terus merangkak naik sampe pernah cicilannya mencapai 1,4 juta per bulan. Karena ga mau dibuat spot jantung terus suami pun berniat men-take over KPR dari bank konvensional ke bank Syariah. Kebetulan BRI Syariah baru buka cabang di Palembang dan memberikan promo margin 7,5% per tahun untuk KPR. Langsung aja saya memprovokasi suami agar take over ke BRI Syariah. Pas proses take over, saya dibuat jantungan mengetahui hutang KPR itu berkurangnya cuma 6 juta saja!!! Padahal cicilan sudah dibayar hampir tiga tahun. Kalo ditotal sudah 30an juta uang dibayar ke bank, kok hutangnya berkurang sedikit?

Rasanya mau marah banget sama pihak bank itu. Berasa kayak dirampok he..he… Gara-gara kebelet pengen punya rumah, ga pake pertimbangan dulu saat ambil KPR. Asal disetujui pihak bank sudah senang. Ga mikir gimana-gimananya. Ga ngerti kalo dibank konvensional itu rasio bunga dalam cicilan itu seperti piramida. Besar di awal tapi makin lama akan makin mengecil. Sementara rasio pokok dalam cicilannya berbentuk piramida terbalik. Awalnya kecil tapi makin lama akan makin besar.  Karena KPR kami baru jalan tiga tahun, jadi selama periode itu, komposisi cicilan pokoknya masih kecil. Makanya hutang cuma berkurang sedikit.

rumah
Makin tahun kebutuhan akan rumah semakin meningkat dan itu peluang bagi bank syariah

Kalo dibank syariah, itu cicilannya tetap ga naik atau turun. Dari awal, kita sudah tau berapa rasio antara margin dan pokok dalam cicilan yang dibayar tiap bulan. Progres pengurangan hutang itu berasa. Dan yang lebih penting adalah memberikan rasa nyaman dan aman karena bebas dari riba yang dilarang keras oleh agama. faktor itu  buat #saya cinta keuangan syariah.

Karena punya pengalaman KPR di bank konvensional dan syariah makanya saya suka sharing atau memprovokasi untuk ngambil kredit di bank syariah. Cuma ya itu, saya jadi sering dimintai tolong menemani untuk pengurusan KPR. Saya ga bisa nolak soalnya sodara dan sahabat itu tahu dengan kelemahan saya, tidak bisa berkutik kalo diimingi  makan bakso sepuasnya.

Kembali ke laptop cerita sahabat saya, dengan berboncengan motor, saya menemaninya ke bank syariah. Di Lahat cuma ada dua bank syariah.

yaitu Muamalah dan Mandiri Syariah. Jadi ga terlalu makan waktu untuk tanya dan membandingkan produk KPR yang paling menguntungkan. Kerennya sahabat saya itu sebelum ke bank, dia sudah punya tiga perencanaan : beli rumah baru, beli rumah bekas atau membangun rumah di atas tanah warisan mertuanya dengan meminjam dana dari bank syariah.

Tiba di Bank Muamalah, kami langsung menuju ke customer service. Meminta informasi soal pengajuan KPR. Semua syarat  sepertinya bisa dipenuhi sahabat saya kecuali satu. Uang muka.Karena pihak pengembang rumah tidak ada kerja sama dengan Bank Muamalah maka uang muka yang diminta lebih dari 30 persen. Dan sahabat saya tidak punya uang sebesar itu. Mau beralih pilihan ke rumah yang dibuat pengembang yang ada kerja sama dengan Bank Muamalah itu daftarnya sedikit sekali. Oke, plan pertama dicoret.

Beralih ke KPR rumah bekas, ternyata uang mukanya juga besar. Lagi-lagi karena alasan PENGEMBANG TIDAK ADA KERJA SAMA DENGAN BANK. Coret lagi plan kedua.

106_1124
Di kota besar, banyak terdapat bank syariah sehingga banyak pilihan bank dan produknya

Meminjam dana untuk membangun rumah itu baru bisa diajukan setelah progress pembangunan rumah mencapai 70%. Sahabat saya langsung meninggalkan bank dengan perasaan kesal. “Kalo pembangunan rumah sudah 70 persen, ngapain pinjam ke bank? Kan rumah itu sudah bisa ditunggu sambil diguyuri pembangunannya. Yang diperlukan itu adalah dana agar bisa membangun rumah dari nol!!” Sahabat saya meluapkan emosinya kepada saya.

Untuk menurunkan kadar emosinya, saya mengajak sahabat saya membeli semangkok bakso dan es kacang merah sebelum melanjutkan perjalanan mencari KPR idaman ke Mandiri Syariah.

Disini, lagi-lagi sahabat saya menemui kekecewaan. Bisa mengajukan KPR tapi proses pengajuan berkas ke kantor cabang Palembang dan yang mensurveynya pun dari Palembang. Jadi berkas KPR yang diajukan di cabang Lahat itu dikumpulkan dulu sebelum diajukan dan diproses di Palembang. Mendengar itu sahabat saya langsung mundur. “Pihak pengembang ga punya stok sabar yang banyak. Ga mau melayani konsumen yang masih ribet dengan urusan pengajuan KPR yang ribet dan lama. Sudah prosesnya lama belum tentu juga nanti akan disetujui kreditnya.” Demikian alasan sahabat saya.

Kecewa? Pasti.

Bagi masyarakat yang tinggal di kota kecil seperti Lahat, harus siap-siap menelan kekecewaan karena tidak meratanya pelayanan syariah. Banyak pe-er yang harus diselesaikan bank syariah.

Mau KPR? Syusahhh. DP besar karena tidak banyak pengembang yang mau bekerja sama dengan bank syariah. Tidak maunya itu banyak faktornya, bisa jadi karena pengembang belum familiar dengan bank syariah atau kurang aktifnya pihak bank menjalin kemitraan dan mensosialisasikan produk KPR ke masyarakat. Harus mengajukan berkas ke kantor cabang di kota besar. Alasannya ini kayaknya susah diterima tapi ini kenyataannya. Kenapa dijaman yang serba canggih ini ga bisa mengcopy paste SOP yang dilakukan bank syariah dikota besar agar bisa diterapkan di kota kecil. Sehingga untuk mensurvey rumah dan memverifikasi data tidak harus menunggu personil dari kota besar, karyawan yang sudah ada bisa diberdayakan dengan memberikan pelatihan.

Mau kredit mobil? Sami mawon. Hanya kantor cabang saja yang bisa melayani kredit ini. Dan itu artinya kalo mau kredit mobil harus ke kota besar. Padahal delaer-dealer mobil sudah berekspansi dengan membuka cabang di kota-kota kecil. Soalnya peminat kendaraan itu berlimpah ruah di daerah. Kenapa bank syariah tidak agresif menggarap pasar kredit mobil di daerah yang pangsa pasarnya besar? Pe-er lagi untuk perbankan syariah.

Gadai emas? Silahkan ke kota besar. Di kota kecil, bank syariah seperti Mandiri Syariah itu hanya melayani cicilan emas. Sedangkan gadai, belum bisa. Alasannya karena tidak ada personil yang bisa melayani urusan gadai. Saya pun sempat kesal banget karena ga bisa menggadai emas di bank syariah. Iya, saya pernah mau menggadai emas di Mandiri Syariah tapi ga bisa. Padahal saat itu saya lagi butuh uang untuk keperluan yang mendadak dan mendesak. Saya lebih memilih menggadainya karena ada banyak kenangan dalam perhiasan itu. Kalo digadai, kita dapat uang tapi perhiasan kita ga bakalan hilang. Asal kita bisa menebusnya kembali. Kalo ga bisa menerima gadai kenapa ada program cicilan emas?

Teman pernah bilang begini dengan nada ironi, “Bank Syariah itu baik, mendoakan nasabahnya di daerah menjadi horang kayahh semua. Biar nasabahnya ga terjebak hutang makanya dipersulit soal kredit-mengkredit.”

Saya cuma bisa mengaminkan saja ucapan teman itu. Cuma yang namanya hidup itu kan ada pasang surutnya. Ga selamanya bisa memenuhi kebutuhan keuangan  dengan kemampuan sendiri. Ada kalanya kita memerlukan dukungan pihak lain. Seperti perbankan syariah.

Masyarakat di daerah cuma tahu bahwa bank syariah itu tempat menabung dan mendaftar haji saja. Produk keuangan yang lain, banyak yang tidak tahu karena istilah-istilah yang digunakan masih asing di telinga. Selain itu, pihak bank kurang mensosialisasikannya ke masyarakat.

DSC09657
Di Bank Syariah bukan cuma ada produk tabungan haji saja

Gimana masyarakat mau cinta dengan produk keuangan syariah, kalo tidak ada pemerataan pelayanan? Bukan cuma masyarakat di kota besar saja yang ingin menikmati pelayanan produk syariah, yang tinggal di daerah juga ingin merasakan hal yang sama. Sudah sosialisasi kurang, bank syariah yang beroperasi di daerah juga sedikit sekali. Paling cuma ada satu atau dua yang membuka cabang di daerah. Padahal potensi pasarnya sangat besar. Karena kesadaran beragama yang sudah tinggi membuat orang lebih memilih produk yang bebas riba dan itu cuma ada di bank syariah.

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Pe-er Untuk Bank Syariah

    Erlina Ayu said:
    October 12, 2015 at 5:26 pm

    Jadi nambah ilmu…makasih ya mbak

    akhmad muhaimin azzet said:
    November 3, 2015 at 4:29 am

    Semoga bank-bank syariah semakin pro-aktif menjalin kerja sama dengan banyak pengembang ya, Mbak 🙂

    Admin AlatBisnis.Com said:
    October 23, 2016 at 9:54 pm

    Ulasan yang sangat lengkap Mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s