Asyiknya Berenang di Sungai Lem

Posted on Updated on

106_0537

Baiknya tinggal di kota kecil seperti Lahat, saya tidak perlu memasukkan dana entertain dalam anggaran belanja dan itu membahagiakan*secara emak hemat* Soalnya disini tidak ada mall, bioskop ataupun waterboom. Jadi ga perlu takut dengan godaan sale di mall, ya kan?

Nah, gegara kelamaan tinggal di kota kecil yang minus mall, anak-anak saya kalo diajak masuk mall jadi kayak orang desa alias katrok habis. Mereka terkagum-kagum liat megahnya pusat perbelanjaan modern. Yang parahnya lagi saat naik eskalator, Nuha dan Dzaki menangis ketakutan sambil berpegangan erat sama saya dan suami. Aduh nak, jangan ditunjukin ke semua kalo kita tinggalnya didaerah alias dusun he..he..

Cuma yang namanya manusia tetap butuh hiburan untuk menjernihkan mental dan pikiran. Untung suami cepat tanggap dengan kebutuhan akan hiburan yang dialami istrinya. Suami mengajak berwisata kuliner makan ketan lemang ke Dusun Pulau Pinang. Sekalian berenang disana. “Airnya jernih, sungainya juga ga terlalu dalam. Jadi cocok untuk anak-anak bermain air,”promosi suami yang sering melewati dusun ini saat dinas ke kota Pagaralam. Perjalanan menuju ke tekape hanya  memakan waktu 15 menit dari  Lahat.

Suami sering bawain oleh-oleh ketan lemang. Rasanya eunak walo sudah dalam keadaan dingin. Pasti sudah taukan dengan makanan yang satu ini? Yup, ketan yang dimasukkan ke dalam bambu diberi perasan santan dan dimasak di atas bara api ini emang maknyuss disantap dalam keadaan hangat. Lebih mantap lagi kalo makan lemang ditemani dengan durian. Top markotop deh.

106_0530
Ketan lemangnya fresh from fire…
106_0531
Hanya dengan uang sepuluh ribu, kita sudah bisa menyantap ketan lemang yang maknyuss

Di sepanjang jalan Dusun Pulau Pinang banyak penduduk yang menjual lemang. Ada juga yang menjual jagung bakar atau rebus. Pilihan suami adalah penjual lemang yang juga menjual durian. Jadi bisa makan lemang yang dicocol durian.

Lemang yang dijual disini ada dua rasa yaitu original dan pisang. Harganya juga murah cuma sepuluh ribu rupiah per batang bambu. Karena mo makan dengan durian, maka kami memilih rasa original. Menurut penjualnya, ketan lemang dari dusun Pulau Pinang memang sudah terkenal kelezatannya. Tak heran jika Gubernur Sumsel ada acara, ketan lemang made in Pulau Pinang diborong sampai ratusan batang untuk disuguhkan ke tamunya.

Sambil menyantap ketan lemang, kita disuguhi pemandangan sungai yang indah. Suara gemericik air ditambah hembusan angin sepoi-sepoi membuat nafsu makan bertambah. Ga sadar, sudah menyantap setengah batang bambu ketan lemang he..he… Aflah dan Nuha sudah tidak khusyuk lagi menyantap lemang.  Mereka sudah tidak sabar lagi untuk berenang. Apalagi banyak anak-anak sebaya mereka yang sudah asyik berenang dan bermain air.

“Ibu, itu sungainya kayak di acara si Bolang!  Banyak batu-batunya. Airnya juga deras,”kata Aflah sedikit takjub.

“Boleh mandi ya?”pinta Aflah dan Nuha berbarengan.

Sebelum mengeluarkan ijin berenang, Saya menanyakan dengan penjual lemang, soal keamanan berenang di sungai. Terutama arusnya membahayakan atau tidak untuk anak. Maklum, ini kali pertama untuk anak-anak saya berenang disungai yang arusnya deras dan banyak bebatuannya. Setelah dinyatakan aman oleh si penjual lemang, saya baru memperbolehkan aflah dan nuha berenang.

106_0539
Siapa sih yang ga tergoda berenang kalo liat sungainya kayak gini?
106_0558
Keceriaan anak-anak bermain air
106_0570
Melihat Aflah yang telaten menuntun dan memegang Nuha biar ga terpeleset menimbulkan rasa haru
106_0573
mejeng dulu…

Sementara Dzaki tidak mau berenang. Soalnya dia takut liat arus yang mengalir dengan deras. Diajak main air aja, Dzaki sudah menangis ketakutan, apalagi berenang. Jadilah dia ga bisa narsis berfoto diantara bebatuan ato pas main air di sungai.

Beda lagi dengan Aflah dan  Nuha. Mereka girang banget diperbolehkan berenang. Tanpa rasa takut langsung main terjun aja ke sungai. Untung ga kejedot batu. Karena sungainya dangkal, cuma selutut orang dewasa, jadi ga bisa berenang serius seperti di kolam renang. Tapi itu ga mengurangi kegembiraan Aflah dan Nuha. Selain main saling siram air, mereka menirukan anak-anak kampung yang main hanyutan badan.

Mudah sekali memainkannya, cukup tidur terlentang di atas air lalu membiarkan arus membawa badan berjalan. Permainan ini harus dalam pengawasan penuh orangtua. Saya yang bertugas mengawasi Aflah dan Nuha melakukan permainan ini harus jadi tarzan. Berteriak-teriak jika melihat anak mulai main hanyutan badan ke tengah sungai.  Anaknya ketawa ketiwi kesenangan, emaknya yang stres karena anaknya bandel suka berenang ke tengah sungai.

Sambil mengawasi anak yang asyik main air, saya mengobrol dengan ibu-ibu yang sedang mencuci baju disungai. Dari ibu tersebut, saya baru tahu kalo sungai ini bernama sungai lem. Penasarankan kenapa namanya bisa seperti itu?? Sama, saya juga penasaran he..he..

“Kok, namanya sungai lem? Kan airnya ga lengket kayak lem?”tanya saya.

“Dulu dipinggir sungai ini banyak sekali buah lem. Makanya dinamakan sungai lem,”jawab ibu itu.

Nah, buah lem itu gimana bentuknya ya?*garuk-garukjilbab*

Daripada penasaran, lebih baik tanya lagi deh dengan ibu itu.

“Buah lem itu buah apa ya?”

“Itu…buah yang rasanya asem-asem, jeruk nipis. Kalo penduduk sini nyebut jeruk nipis itu dengan buah lem.”

Dari obrolan singkat tadi saya bisa menarik kesimpulan soal asal muasal nama sungai lem versi saya. Mungkin….jaman dulu saat masa penjajahan, ada penduduk sini mendengar orang bule menyebut jeruk nipis dengan lime. Karena tidak bisa mengucapkan kata lime dengan tepat makanya lama kelamaan berubah jadi lem he..he….

Biasanya setiap memperingati 17 agustusan, selalu diadakan lomba beranyutan atau lomba rakit tradisional. Startnya dimulai dari sungai lem. Momen tahunan itu menjadi hiburan menarik bagi warga Lahat.

Namanya juga anak-anak, kalo sudah bermain air, bisa lupa diri. Berulang kali disuruh berhenti main air, tidak juga diindahkan. Padahal bibir mereka sudah biru karena kedinginan. Tapi setiap kali disuruh naik, Aflah dan Nuha selalu bilang: “Nanti, bu. Sebentar lagi. Masih belum puas.”

Terpaksa, saya meminta bantuan suami untuk menyuruh anak naik ke daratan. Suami cukup bilang: “Naik sekarang ato ayah tinggal nih.” Mendengar ancaman itu Aflah dan Nuha langsung berhenti main.

Dalam perjalanan pulang, Aflah dan Nuha memamerkan beberapa bagian badannya yang lebam karena terbentur batu saat main hanyutan badan. Kapok?? Tidak. Soalnya mereka meminta untuk kesini lagi kalo libur. Bercengkerama dengan alam itu menjadi hiburan yang sangat mengasyikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s