Ketika Hamil Dengan Kista

Posted on Updated on

Nuha ketika umur setahun
Nuha ketika umur setahun

“Selamat ya, kemungkinan ibu akan dikaruniai anak kembar,”kata dokter kandungan seusai saya melakukan pemeriksaan USG. Melalui layar monitor, dokter menunjukkan dua titik atau kantung kehamilan yang ada di rahim saya. “Untuk lebih pastinya, seminggu lagi ibu datang kesini untuk di USG lagi.”

Asli, saya hanya bisa melongo dan ga bisa berkata-kata mendengar ucapan dokter. Bahagia??? Bangettt. Ga usah diomongin lagi gimana perasaan saya saat itu. Pokoknya keluar dari ruang praktek dokter, bawaannya pengen senyummmm aja. Suami juga sama cuma dia lebih kalem, ga norak kayak saya dalam mengekspresikan kebahagiannya.
“Mungkin ini ganti yang keguguran kemarin. Berkat ibu sabar menerima itu sebagai cobaan, Allah menggantinya dua kali lipat,”ujar suami dalam perjalanan pulang.
Ucapan suami membuat saya mengenang kembali kejadian pahit saat keguguran. Saat Aflah berusia 2 tahun, saya melepas alat kontrasepsi agar bisa hamil kembali. Namun tiga bulan pasca kontrasepsi dilepas, saya kok ga kunjung hamil. Saya pun mendesak suami agar berobat ke dokter kandungan. Karena jadwal menstruasi saya berantakan, dokter memberi saya obat agar jadwalnya teratur. Tiga kali berkonsultasi dengan dokter kandungan X, saya belum juga menunjukkan tanda-tanda berbadan dua.
Saya pun pindah ke dokter kandungan lain. anggap saja namanya Y. Saat berkonsultasi, saya ceritakan riwayat berobat ke dokter terdahulu dan obat apa yang saya konsumsi. Untuk mengecek kondisi rahim, dokter meminta ijin melakukan USG transvaginal. Menurut dokter, rahim saya ada pendarahan. Dokter pun meresepkan obat untuk membersihkan pendarahan biar saya cepat hamil lagi.
Empat hari memakan obat itu, perut saya mules-mules. Saya juga belum datang bulan. Saya minta suami untuk membelikan testpack dan hasilnya POSITIF! Alhamdulillah, akhirnya hamil juga.
Karena dokter Y sedang keluar kota, saya yang sudah ga sabar lagi untuk memeriksakan kandungan, pergi ke dokter Z. Saya menjelaskan perihal mules yang sering saya alami dan obat yang sedang saya konsumsi. Dokter Z langsung melotot mendengar obat yang saya konsumsi itu.
“Obat yang ibu makan itu bisa menyebabkan keguguran. Kenapa bisa diresepkan obat itu?”
“Kata dokter Y, rahim saya sedang pendarahan makanya dikasih obat itu. Ga tau kalo obat itu bisa menyebabkan keguguran,”ujar saya hampir menangis.
“Itu bukan pendarahan rahim tapi proses awal kehamilan. Memang kelihatannya seperti pendarahan.Saya kasih obat untuk menetralkan obat yang sudah terlanjur dimakan. Ibu ga usah khawatir,” Dokter Z berusaha menenangkan saya.
Sehari mengkonsumsi obat yang diberikan dokter, saya mengeluarkan flek coklat. Malamnya saya pergi ke dokter Z lagi. Dosis obat dinaikkan untuk menetralkan efek obat dari dokter Y. “Kalo mengeluarkan flek warna coklat, kata orang jawa itu hamil kijang. Itu masih bisa dipertahankan. Tapi kalo sudah mengeluarkan darah segar walo setetes itu sudah tanda keguguran,”kata dokter Z.

100_0901
Nuha ketika berumur tujuh bulan. Pipinya yang chubby selalu membuat gemas orang yang melihatnya

Dua hari kemudian, saya mengeluarkan darah segar yang sangat banyak. Sambil menangis saya menelepon dokter Z dan menceritakan kondisi saya. “Ibu sudah keguguran walaupun sudah diupayakan untuk mempertahankan kehamilannya. Mungkin belum rejekinya. Kalo pendarahannya sudah berhenti, ibu datang lagi untuk diperiksa apakah rahimnya sudah bersih pasca keguguran.”
Sedih dan kesal bercampur jadi satu. Kesal sama dokter Y yang salah mendiagnosa sehingga salah meresepkan obat. Kesal sama diri sendiri yang doyan gonta ganti dokter kandungan. Saat itu bawaannya emosi banget. Sudah kepikiran untuk menuntut dokter Y karena obat yang diberikannya membuat saya keguguran. Cuma suami selalu bisa menjadi ‘batu es’ untuk saya. Beliau selalu menasehati saya untuk ikhlas menerima keguguran ini sebagai ujian. Walo suliiiiit banget, saya mencoba untuk belajar ikhlas agar bisa move on dan hamil lagi. Dan benar saja saat diri bisa berdamai dengan keadaan, empat bulan kemudian saya sudah dinyatakan hamil lagi. Kembar malah!!
Berita kehamilan kembar ini langsung saya sebarkan ke keluarga besar. Semua menyambut dengan bahagia. Apalagi ini merupakan kembar yang pertama untuk keluarga besar saya. Sementara dari pihak suami, kembar bukan sesuatu yang baru. Banyak saudara sepupunya yang terlahir kembar.
“Mudah-mudahan nanti kembarnya laki-laki sama perempuan ya, seperti istrinya atasan,”harap suami. “Tapi mo kembarnya laki-laki aja atau perempuan aja juga ga masalah. Yang penting sehat!”
Duh, rasanya ga sabar menunggu waktu seminggu untuk di USG lagi. Cuma mo pindah dokter lain, saya sudah kapok dan trauma. Jadilah saya menyabarkan diri aja sambil memikirkan nama yang cocok untuk si kembar nanti.
Pas saya di USG lagi seminggu kemudian, dokter Z bilang, “Ibu, sepertinya ini bukan kehamilan kembar. Soalnya hanya satu yang ada kantung janinnya dan yang satunya lagi itu adalah kista.”
“Kok bisa ada kista? Kan saya tidak ada riwayat punya kista sebelumnya,”tanya saya bingung bercampur panik.
“Kista bisa terjadi karena peningkatan hormon estrogen saat kehamilan. Apalagi sebelumnya ibu pernah mengalami keguguran,”jelas dokter Z.
Perasaan senang akan dikaruniai anak kembar langsung hilang mendengar bahwa saya hamil dengan kista di rahim.
“Jadi gimana dengan janin saya kalo dirahim ada kista? Itu membahayakan janin tidak?”tanya saya bertubi-tubi.
“Ibu tidak usah terlalu khawatir. Biasanya kista yang ada saat kehamilan adalah kista lutein. Kista ini tidak memerlukan pengobatan atau tindakan operasi karena akan hilang dengan sendirinya,”kata dokter Z menenangkan saya. “Cuma kalo kistanya mengganggu jalan lahir, mau tidak mau harus dilakukan operasi.”
Walo berusaha untuk tetap cool tapi perasaan cemas tetap saja menghantui. Takut si baby kenapa-napa karena harus berbagi tempat dengan kista di rahim. Apalagi saat USG bulan kedua, si kista lebih besar dari pada si bayi. Mungkin karena kepikiran hamil dengan kista atau emang bawaan rahim, lagi-lagi saya sering mengeluarkan flek berwarna coklat. Sama seperti kehamilan pertama. Dokter menyuruh saya harus bedrest sampai usia kehamilan tiga bulan atau lebih.
Saat kehamilan memasuki bulan keempat, saya tidak lagi mengeluarkan flek. Cuma si kista besarnya sama dengan si baby. Panik? Tentu. Tapi saya ga bisa berbuat apa-apa untuk mengenyahkan si kista. Saya cuma bisa berdoa, berdoa dan berdoa agar calon bayi saya sehat lahir dan batin, saya bisa melahirkan dengan normal.
Bulan kelima : Si kista lebih besar dari pada si anak gadis. Yup, dokter memprediksi anak kedua saya berjenis kelamin perempuan. Melengkapi keluarga kecil kami yang sudah dikaruniai anak laki-laki.
Bulan keenam : saya sudah memasrahkan diri kalo harus menjalani operasi untuk menghilangkan si kista dan ternyata pas di USG, dokternya bilang kalo kistanya HILANG. Ternyata si gadis lebih kuat daripada kistanya sehingga ia bisa ‘mengusir’ kista. Alhamdulillah. Cuma posisinya sungsang.
Mungkin karena ga ada lagi saingan berebut tempat, makanya si gadis keenakan jumpalitan di rahim sehingga posisinya selalu melintang alias sungsang sampai bulan kedelapan.
Saya disuruh dokter untuk memperbanyak sujud untuk mengembalikan si gadis ke posisi normalnya. Kepala dibawah. Cara sujud yang diajarkan sama seperti sujud di dalam sholat Cuma dada harus ditempelkan ke lantai.
Pas bulan kesembilan, si gadis sudah tidak sungsang lagi. Kepalanya sudah memasuki jalan lahir. Karena sudah tidak ada masalah dengan posisi bayi, saya memutuskan untuk melahirkan di bidan yang menolong saat saya melahirkan anak pertama dulu. Dan tepat tanggal 4 Oktober 2008, saya melahirkan seorang anak perempuan cantik yang diberi nama “Nuha Maritza Kalyani Aryanto”
Walaupun tidak jadi mendapat anak kembar tapi melihat Nuha lahir dalam keadaan sehat dan normal membuat saya dan keluarga sangat berbahagia dengan kehadirannya.
Untuk para ibu atau calon ibu yang sedang hamil dengan kista, berikut tips yang bisa saya bagikan :
– Memperbanyak doa dan ibadah agar bayi yang berada dalam kandungan selalu dalam keadaan sehat lahir dan batin, serta bisa melahirkan secara normal.
– Rajin periksa kehamilan di dokter. Biar kita bisa mengetahui perkembangan janin dan kistanya.
– Jangan gonta ganti dokter.
– Teratur minum obat dan vitamin yang diberikan dokter.
– Jalani kehamilan dengan tenang. Hindari rasa panik dan khawatir berlebih. Berupayalah untuk membuat diri merasa tenang dan bahagia. Bisa dengan cara mendengarkan musik klasik, bermeditasi atau membaca buku. Kalo saya mendapatkan ketenangan dengan mengaji Al-Quran. Sejak hamil anak pertama, saya berupaya mengkhatamkan Al-Quran sebelum usia kehamilan empat bulan. Hal itu juga saya lakukan saat hamil si gadis.
– Minta dukungan dari orang-orang terdekat agar bisa menjalani kehamilan dengan tenang. Saya bersyukur punya suami yang ga gampang panikan. Jadi dia bisa memotivasi saya untuk tidak panik memikirkan si kista.
– Ajak si calon bayi bicara. Kedengarannya aneh ya, tapi hal itu saya lakukan dan terbukti. Saya selalu mengajak si gadis bicara dan bilang bahwa “Kamu anak yang kuat jadi Kamu bisa melawan kista itu!”. Ucapan ibu adalah doa. Saat kehamilah enam bulan, kista bisa hilang dengan sendirinya. Pas si gadis posisinya sungsang, saya bilang “Ayo, bantu ibu biar bisa melahirkan secara normal. Kamu harus balik ke posisi normal ya!”

Ah, setiap kehamilan memang selalu membawa banyak cerita. Ini cerita kehamilan saya, apa cerita kehamilanmu?

Tulisan ini diikut sertakan dalam #pregnancy Story

nuk baby

Advertisements

8 thoughts on “Ketika Hamil Dengan Kista

    Sony Aryanto said:
    May 23, 2015 at 12:50 pm

    Emang nuha lucu dan gemesin. Anak siapa dulu dong? he..he…

      Emi Afrilia responded:
      May 23, 2015 at 12:59 pm

      Idih…si ayah mah ge-er. Giliran anaknya udah mandi, lucu dan gemesin itu jadi anak ayah. Tapi kalo belum mandi, jadi anak ibu he..he..

    febytriawan said:
    May 23, 2015 at 12:59 pm

    wahh…. betul2 perjuangan seorang ibu ya.
    alhamdulillah nuha lahir sehat ya mba. amazing bgt kista bisa lenyap total di akhir smstr 2 kehamilan bbr2 kuasa Allah SWT.
    kehamilan memang memiliki cerita srndiri2.
    ahhh paling bahagia kalo si bayi nendang2 perut 😀 jdi keinget waktu hamil dlu nih hehehe

      Emi Afrilia responded:
      May 23, 2015 at 1:05 pm

      Ayo mbak tulis cerita tentang kehamilannya. Dl nya tgl 24 mei. masih sempet kl mo berbagi cerita kehamilannya

    inda chakim said:
    May 24, 2015 at 2:13 am

    Yup setiap kehamilan mmg punya cerita sendiri2..
    Nuha bener2 tangguh dah mak..udh buerhasil ngusir si kista.
    Jgn balik lg deh tuh kista amin..
    🙂

      Emi Afrilia responded:
      May 25, 2015 at 1:48 am

      Amin…si kista mah emang hrs diusir dr rahim hush..hush…
      kl cerita kehamilan mak inda gimana?

    fauzinurhasan said:
    June 3, 2015 at 2:14 am

    Kisah kehamilan luar biasa, putrinya lucu dan imut

      Emi Afrilia responded:
      June 3, 2015 at 7:22 am

      Makasih untuk pujiannya. Tapi kalo bayi dipakaikan jilbab emang jd keliatan lbh lucu dan imut lho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s