Donor Darah Yuk…

Image Posted on Updated on

 

Akhirnya setelah si bungsu khatam menyusui bisa berdonor lagi...
Akhirnya setelah si bungsu khatam menyusui bisa berdonor lagi…

Takut, itu kata yang terbersit saat ditawari untuk berdonor darah. Bukannya tidak mau beramal tapi melihat jarum yang besar ditancapkan dikulit dan darah yang mengalir keluar dari badan membuat nyali makin ciut.

Ditambah lagi postur badan saya (duluuu) yang kurus kerempeng menjadi pembenaran untuk tidak berdonor darah. Slogan yang berbunyi “Setetes darahmu nyawa bagi si sakit” tidak juga mampu mengetuk hati.

Dalam rangka memeriahkan acara dies natalis, kampus mengadakan donor darah. Dan saya tidak sedikit pun tergerak untuk berpartisipasi. Saat sahabat saya, Daeng (soalnya dia berasal dari Makasar) mau berdonor, saya dan sahabat yang lain memberi dukungan dengan ikut mengantar dan menemaninya.

Dan yang membuat kami terbelalak takjub adalah Daeng menyumbangkan darahnya sebanyak dua kantong. Padahal badannya lebih kecil dan kerempeng dibandingkan saya. Kok bisa ya

“Ga takut darahnya habis?” tanya saya bodoh.

“Ga dong, justru dengan berdonor, akan terbentuk sel-sel darah baru yang lebih sehat. Berdonor juga baik untuk  mencegah penyakit kanker dan kolesterol. Ayo dong berdonor!”jawab  petugas PMI yang mendengar pertanyaan saya.

Saya hanya manggut-manggut aja mendengar penjelasan (lebih tepatnya rayuan) dari petugas PMI. Masih belum tertarik untuk bersedekah darah. Selesai berdonor, Daeng langsung dikasih hadiah berupa dua butir telur rebus, vitamin penambah darah dan sebungkus nasi rendang (kalo ini pihak kampus yang menyiapkan). Daeng juga tampak sehat, ga loyo atau lesu seusai darahnya diambil.

Seperti kata pepatah, sahabat yang baik adalah yang bisa menjadi ‘kompor’, saya dan dua orang sahabat terkena komporan sehingga menyerahkan diri untuk berdonor.

Sebelum diambil darahnya, saya diperiksa dulu golongan darahnya. Dan ternyata saya bergolongan darah A rhesus positif. Selama ini kalo ada pertanyaan mengenai golongan darah, selalu saya jawab asal. Kadang O, lain waktu B, tergantung lagi pengennya apa he..he… Kalo ga berdonor ga bakalan tau golongan darah apa…

Saya juga diukur tekanan darahnya dan ditanya sedang datang bulan atau tidak. Karena yang bisa berdonor itu yang tekanan darahnya normal, spesial untuk  wanita tidak dalam keadaaan haid, hamil atau menyusui.

Karena tekanan darah saya normal dan tidak sedang haid, maka saya pun bisa menyumbangkan darahnya. Takut, jelassss. Cuma mo mundur kayaknya ketauan banget penakutnya.  Saya memejamkan mata saat petugas mulai beraksi menusukkan jarum ke kulit. Dan ternyata rasanya itu sakittt. Tapi tidak sesakit yang saya bayangkan. Sakitnya juga tidak sesakit seperti mencabut gigi. Yippiee akhirnya saya bisa berdonor juga.

Badan rasanya enteng pake banget usai berdonor. Ga terasa lemes ato pandangan mendadak jadi berkunang-kunang.

Sesudah donor yang perdana, saya dan tiga orang sahabat jadi rutin mengunjungi PMI untuk berdonor. Karena punya sahabat yang sama-sama suka berdonor, jadi kami bisa saling mengingatkan jika sudah tiba waktunya untuk berdonor. Bahkan saling berlomba siapa yang paling sering berdonor.

Manfaat apa yang didapat dari berdonor? Karena dulu masih muda (sekarang pun masih he..he..), saya tidak terlalu memikirkannya. Yang penting ada perasaan happy setiap usai berdonor.

Pernah, saat akan berdonor, saya menjumpai seorang bapak yang sedang kebingungan mencari donor pengganti. Saudara-saudara yang dibawanya ke PMI, ternyata golongan darahnya tidak sesuai yang dibutuhkan istrinya yang akan dioperasi. Saya dekati dan tanya, golongan darah apa dan dijawabnya kalau butuh golongan darah A. Langsung saya menawarkan diri untuk menjadi donor pengganti.

Bapak itu mataya langsung berkaca-kaca, senang. Seusai berdonor, bapak itu mendekati saya dan mengangsurkan sejumlah uang. Saya menolaknya. Bukannya ga butuh uang tapi rasa bahagia melihat darah saya bisa membantu menyelamatkan nyawa orang itu lebih besar nilainya.

Dua bulan setelah menikah, saya tidak bisa berdonor lagi. Saya dinyatakan hamil anak pertama. Praktis, selama hampir sebelas tahun menikah, saya cuma dua kali berdonor. Itu saya lakukan setelah anak khatam asinya dua tahun. Sementara sahabat yang donor perdana bareng saya sudah mau 50 kali berdonor. Mungkin karena laki-laki jadi ga ada alasan untuk tidak berdonor.

Pernah waktu bibi mau dioperasi dan dia butuh transfusi darah golongan A, saya menawarkan untuk menjadi donor pengganti. Waktu ke PMI, saya berbohong dengan petugasnya kalau saya tidak sedang menyusui padahal saya lagi menyusui anak kedua. Tapi mulut bisa berbohong tapi darah tidak bisa, tekanan darah saya dinyatakan rendah begitu juga dengan HB. Saya dinyatakan ga layak berdonor…ihiks…ihiks…

Setelah selesai menyusui si bungsu, saya mencoba kembali untuk berdonor darah. Waktu ke Palembang, saya minta suami untuk mengantar ke PMI. Pas diukur tekanannya, tensi saya normal namun pas dicek HB ternyata rendah. Saya tidak bisa berdonor. Saya tanya ke petugas, kenapa kok bisa rendah HBnya?

“Ibu, tidurnya cukup?”

Saya mengangguk.

“Ibu, habis melakukan perjalanan jauh?”

Kembali saya mengangguk.

“Mungkin ibu kecapekan karena melakukan perjalanan jauh makanya HBnya turun,”jelas petugas PMI.

Ternyata saat badan capek pun kita tidak bisa berdonor darah. Artinya hanya orang yang dinyatakan sehat yang bisa berdonor. Jadi kalau merasa sehat cara membuktikannya adalah dengan berdonor.

Pernah, ada tetangga yang terpaksa berdonor karena ada saudaranya harus dioperasi. Karena merasa sehat dan bergolongan darah sama, ia menyumbangkan darahnya. Beberapa hari kemudian, ia ditelp oleh petugas PMI. Berdasarkan pemeriksaan darahnya, ia terdeteksi mengidap hepatitis B.

Nah, kalau bukan karena berdonor ia tidak akan pernah tau terkena penyakit tersebut. Bisa dibilang berdonor itu medical chek up gratis untuk pendonor he..he…

Jadi, jangan takut ya untuk berdonor…

Advertisements

7 thoughts on “Donor Darah Yuk…

    Vhoy Syazwana said:
    May 2, 2015 at 1:11 pm

    Sy belum pernah donor darah Mak, karena bb-nya kurang xixixi! Tapi seneng liat temen suka donor rutin. Pengen tapi ya gmn, tidak emmenuhi S&K donor hehe

      emiafriliaburhanuddin responded:
      May 2, 2015 at 1:40 pm

      Ayoooo coba ajaaaa…awalnya sih emang takut tapi bikin ketagihan lhoooo*kompormeledug*

    dianramadhani said:
    May 2, 2015 at 3:14 pm

    iya mba, aku juga belom pernah donor darah, karena ga memenuhi syarat. sekarang BB nya sih udah normal tp masih ASI, mudah mudahan setelah khatam ASI bisa ikut, tq sharing nya mba

      Emi Afrilia responded:
      May 3, 2015 at 1:41 pm

      Masih apa yaaaa?*pura-pura ga tau*

    f.nugroho said:
    May 2, 2015 at 8:42 pm

    sejak ditolak gara2 bb kurang, sampai sekarang belum donor. insya Allah mau donor lagi karena bb udah naik 😀

      Emi Afrilia responded:
      May 22, 2015 at 10:53 pm

      Yeayyy…ntar kl sdh donor ditunggu ceritanya ya..

    dianramadhani said:
    May 3, 2015 at 1:44 pm

    hihi.. masih breasfead mungkin ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s