Serunya Bernegosiasi Dengan Anak

Posted on Updated on

Bangun tidur, Dzaki si bontot langsung menuju kulkas dan mengambil es krim. “Ibu, boleh adek makan es krim?”tanyanya. Sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi lebih untuk menegaskan kepada saya bahwa biarpun dilarang ia tetap akan makan es krim. Kalo ga dituruti maka ia sudah menyiapkan senjata andalannya yaitu menangis sambil berputar-putar mengelilingi saya persis gasing. Biasanya kalo Dzaki bertingkah laku jadi gasing menangis mau tidak mau semua permintaannya dituruti atau emosi saya yang kepancing. Saya marahin dia dan dengan sedikit ancaman serta hukuman saya bisa mencegahnya untuk makan es krim di pagi hari.

Apakah masalahnya akan selesai disitu saja? Ho..ho…tidak. Karena pagi-pagi sudah mendapat ‘sarapan pagi’ omelan dari saya, Dzaki akan badmood. Dia jadi susahhhhh bingits untuk diajak mandi dan sarapan. Pergi sekolah pun pake acara mewek. Ada saja hal kecil yang membuatnya emosi dan menangis. Perasaan kesal tidak dibolehkan makan es krim dan dimarahi membuatnya jadi tidak bersemangat untuk beraktifitas. Dipastikan sepanjang hari akan terjadi drama dimana Dzaki berperan sebagai pembuat ulah dan saya menjadi ibu yang pemarah.

Tapi itu duluuuu sebelum saya mengenal ruasdito. Metode ini sangat terkenal banget. Sayang sekali saya mengenalnya baru-baru ini saja#caritisu. Biarlah mengenalnya terlambat dari pada tidak kenal sama sekali, he..he..menghibur diri. Kalo ga kenal metode ruasdito, seumur hidup saya bakal jadi ibu yang doyan marah sama anak. Mudah banget terbakar emosinya liat tingkah anak. Makin sering dimarahi, anak makin banyak ulahnya. Seremnya, kalo diingat anak sebagai angry moms.

Ruasdito singkatan dari rute asuh didik ala toge. Dalam konsep ini, anak diajarkan secara bertahap agar sebelum berusia 13 tahun sudah bisa mengambil keputusan secara rasional. Kepandaian mengambil keputusan setelah menimbang untung serta ruginya merupakan bekal dan keterampilan hidup untuk anak dimasa depan. Orangtua berperan sebagai fasilitator untuk anak belajar mengambil keputusan sendiri.

Untuk sampai ke tahapan anak bisa mengambil keputusan secara mandiri dan rasional, anak diajarkan terlebih dahulu untuk memilih enak vs enak, enak vs tidak enak, tidak enak vs tidak enak. Anak juga diajarkan untuk merasa kecewa. Mungkin Anda heran, kok mengajarkan anak yang masih kecil dan ingusan dengan rasa kecewa? Bukannya sebagai orangtua, kita berusaha segenap jiwa dan raga untuk membahagiakan anak? Yap benar sekali tapi selama manusia hidup, ia akan sering berjumpa dengan yang namanya rasa kecewa, sedih, senang atau bahagia. Manusia Itu disebut kuat dan tangguh ketika ia bisa mengelola dan mengendalikan rasa kecewa dan sedih yang ada didirinya.

Saat anak diminta untuk memilih, terkadang pilihan yang disodorkan tidak sesuai dengan keinginannya. Anak pun merasa kecewa. Untuk mengekspresikan kekecewaannya biasanya anak akan menangis atau memasang muka bete. Tapi biasanya itu berlangsung cuma sebentar saja ga pake acara jadi gasing menangis he..he…

Saya sering banget ngancam anak agar mereka nurut dengan keinginan saya. Kadang saya juga mengimingi anak dengan hadiah agar mau nurut. Jadilah anak saya tukang tagih hadiah dan tukang ngancam. Mau melakukan sesuatu kalo dikasih hadiah atau diancam dulu#tepokjidatsambiltutupmuka. Contohnya aja, saat saya sama suami mo pergi keluar, anak-anak bilang”Ibu, jangan lupa hadiahnya, roti bakar. Awas ya kalo ga beli!” Anak mengcopas semua ucapan saya, doyan minta hadiah dan main ancam. Astaghfirullah, maafin ibu ya nak, sudah ngajarin yang ga bener.

Dengan ruasdito, saya tau bagaimana agat anak bisa menurut keinginan saya tanpa merasa terpaksa, minus ancaman dan iming-iming hadiah. Gunakan tehnik berdagang. Contohnya saja, saya ingin Aflah sholat Ashar dulu sebelum main sepeda. Agar Aflah mau melakukan itu, Saya jual keinginannya didepan baru disebutkan syarat untuk memperolehnya. Cukup dengan mengatakan “Mamas mo main sepeda ya dengan teman-teman? Boleh, tapi sholat ashar dulu ya?”

Nah, kembali ke cerita Dzaki tadi, saat dia mau makan es krim di pagi hari, mulut saya sudah gatal mau bilang tidak boleh. Tapi setelah belajar ruasdito, saya menggunakan tehnik berdagang untuk mencegahnya makan es krim. Saya mau jual mahal dan menukarnya dengan sesuatu yang sangat berat dilakukan Dzaki.

“Adek mau makan es krim ini ya? Mau berapa sendok?”

Melihat saya yang pasang muka ramah, Dzaki langsung mengacungkan sepuluh jarinya.

“Adek boleh makan es krim pagi ini tapi adek mandinya air dingin ya?” Dzaki itu ga bisa mandi kalo ga pake air hangat.

“Adek ga mau mandi air dingin!”katanya dengan mimik cemberut.

“Kalo adek ga mau mandi air dingin berarti makan es krimnya nanti aja ya?”

Karena syarat untuk makan es krim ga bisa dipenuhinya, sambil menangis Dzaki menaruh kembali es krim ke dalam kulkas. Benar sodara-sodara, anak saya tetap nangis walo saya menggunakan tehnik ruasdito. Tapiiiii….nangisnya cuma sebentar saja. Mengekspresikan kekecewaannya saja. Moodnya juga tidak terganggu. Soalnya dia dipaksa tahu bahwa dia tidak bisa makan es krim bukan karena dilarang ibunya tapi disebabkan tidak bisa memenuhi syarat untuk memakannya.

Lain waktu Dzaki ngamuk mo nonton upin ipin sementara Aflah dan Nuha mo nonton unyil. Saya tawarkan pilihan “Adek, mo nonton upin ipin atau nonton unyil sambil makan apel?” Dzaki keukeuh mo nonton upin ipin. Dia pun tahu dengan konsekuensinya. Saat sodaranya makan apel, dia tidak meminta ato mendekati. Padahal apel itu buah kesenangannya. Tapi Dzaki nonton sambil cemberut karena tidak bisa makan apel.

Saat Aflah mo main sepeda sepulang sekolah, saya tidak melarangnya. Saya memperbolehkannya dengan syarat dia harus menghafal lima ayat dari surah yang sedang dihafalnya.

Kalo saya mau memperbolehkan anak melakukan apa yang diinginkannya maka saya akan menjualnya murah. Menetapkan syarat yang mudah mereka kerjakan. Tapi jika saya mau mencegah anak tanpa acara marah-marah, cukup dengan menjual mahal.

Saya menulis ini bukan berarti saya sudah bebas marah dengan anak atau ahli banget dalam menerapkan ruasdito dalam mengasuh anak. Saya menulis ini biar saya mengingat dengan baik metode ruasdito. Saya masih harus banyak belajar untuk menjadi ibu yang baik dan tidak doyan Saling mendoakan ya ^_^

Advertisements

6 thoughts on “Serunya Bernegosiasi Dengan Anak

    AdiPradana said:
    December 14, 2014 at 10:36 pm

    Nice share mom, saya akan mencoba menerapkan cara ini, smg anak saya bisa mengerti…

      emiafriliaburhanuddin responded:
      December 15, 2014 at 6:28 am

      Saya pun masih belajar untuk menerapkan tehnik ini. Masih suka terpancing emosinya. Apalagi kalo sudah pake acara menangis.

    Utari Cahyani said:
    March 18, 2015 at 8:58 am

    harus belajar tentang ruasdito juga ni saya mak.. takut jadi tokoh antagonis soalnya.. sejauh ini kalau anak mulai merengek, ayahnya yang turun tangan, karena ayahnya lebih sabar.. semoga anak-anak kita tumbuh menjadi manusia mandiri ya mak..

      emiafriliaburhanuddin responded:
      March 19, 2015 at 5:10 am

      kalo kata psikolog, jadi orangtua itu harus banyak belajar utamanya belajar sabar. kadang2 kl liat anak bertingkah, semua teori2 psikologi tentang pengasuhan anak jd blank. jadilah terbawa emosi dg anak. beruntung suami sy sama kayak suaminya mak utari, sabar. jd bs mengimbangi ketidaksabaran sy…#jdnyacurcol

    bukanbocahbiasa said:
    March 22, 2015 at 10:56 pm

    Uhuuuiii, makasiii sharingnya ya mak. Negosiasi ama anak masa kini emang syusyaaahhh

      emiafriliaburhanuddin responded:
      March 23, 2015 at 12:49 am

      Soalnya anak2 sekarang lbh jago ngelesnya. mknya emaknya kudu hrs belajar terussss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s