Tak Ada Cinta untuk Aling Senin, 17 Maret 2014 – 21:01 wib | –

Posted on Updated on

Tak Ada Cinta untuk Aling

MEMBACA karangan siswa mengenai ibu membuat dadaku terasa sesak. Tiba-tiba saja aku merindukan ibuku yang ada di kampung. Rindu pada belaian, kelembutan, kasih dan juga kemarahannya. Aku memejamkan mata, coba menghadirkan sosok ibu dalam benakku hingga aku bisa merasakan sosok ibu ada didekatku dengan aroma tubuhnya yang khas.

Keinginan untuk menelepon ibu semakin kuat, tapi aku harus menyelesaikan dan memberi nilai karangan terlebih dahulu. Soalnya menelepon ibu tidak cukup sepuluh menit karena ibu selalu mengulang-ulang ceramahnya yang membuatku bosan sekaligus merindukannya. Paling sebal jika ibu sudah mulai menyerempet urusan jodoh. Menanyakan kapan aku akan menikah dan memberinya cucu.
Tinggal dua karangan lagi yang belum kuperiksa. Aku mengernyitkan dahi. Heran. Karangan yang kupegang hanya berisi satu paragraf saja. Padahal aku mewajibkan siswa untuk membuat karangan minimal lima paragraf. Anak jam sekarang jika disuruh buat karangan susahnya minta ampun. Tapi kalau buat status galau disosial media bisa puluhan paragraf.

Aku membaca pemilik karangan itu. Aling. Aku coba mengingat sosok Aling tapi sialnya aku tidak bisa. Mungkin dia termasuk murid yang tidak menonjol, biasa-biasa saja sehingga sosoknya tidak menarik perhatian guru baru sepertiku, gumamku menghibur diri.

Apakah Tuhan menyesal telah menitipkan aku pada rahim seorang wanita yang sekarang menjadi ibuku?!? Kalau iya, aku pun kasihan pada Tuhan yang telah lalai hingga aku terlahir sebagai anak ibuku!!!

Aku mengulangi membaca karangan Aling sekali lagi untuk memastikan bahwa mataku masih normal. Aku tidak salah baca. Aku menduga karangan ini dibuat Aling dengan rasa kebencian yang mendalam. Terbukti saat kertas ini banyak bolongnya. Mungkin Aling menekan penanya menahan emosi yang terpendam. Aling juga berani menghujat Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi antara Aling dengan ibunya?

Banyak karangan siswa yang menuliskan ketidaksukaannya pada ibu karena dilarang berpacaran atau tidak boleh melakukan hobi yang berbahaya. Tapi biasanya diakhir karangan, mereka baru menyadari bahwa larangan ibu disebabkan rasa cintanya yang berlebihan pada anaknya.

Aku memakluminya karena aku juga pernah mengalaminya. Rasa ingin melindungi seorang ibu terkadang menimbulkan friksi dengan anaknya. Seorang ibu terkadang tidak menyadari bahwa anaknya sudah besar dan tidak mau lagi diatur. Sudah memiliki kehidupan dan dunia sendiri yang terkadang bertolak belakang dengan keinginan orang tua. Tapi Aling, tak secuilpun menyinggung seperti apa sosok ibunya.
***

Ketika aku mengulas karangan siswa tentang ibu, diam-diam aku memperhatikan reaksi Aling yang baru kutahu duduk di sudut kelas. Sendirian. Tiap siawa lain menceritakan tentang kasih sayang seorang ibu, Aling mencibir sinis dan membuang muka.

“Sebagai manusia terkadang kita lebih menggunakan emosi ketimbang akal dalam menghadapi masalah. Sebagai contoh, ketika ibu melarang kita keluar malam, kita marah dan melancarkan protes. Saat protes kita tidak diterima oleh orangtua khususnya ibu akan timbul marah yang berujung kebencian. Padahal kalau kita berpikir sedikit saja maka kita akan mengerti mengapa orang tua melarang dan itu akan memunculkan rasa terima kasih.

Karena pada prinsipnya, apa yang dilakukan orangtua semuanya bersumber dari rasa sayang dan cinta pada anaknya,”kataku memberi kesimpulan pada tema karangan kali ini.”

Selama berbicara di depan kelas, pandanganku tidak lepas dari Aling. Tapi reaksinya tetap sama, tidak peduli dan sibuk memandang ke jendela. Penjelasanku selanjutnya terpotong bunyi bel pulang sekolah. Para siswa bergegas memasukkan buku ke dalam tas, dengan semangat memberi salam lalu membubarkan diri. Hanya aku dan Aling yang masih tertinggal di kelas.

Aku melemparkan senyum kepada Aling dan dibalasnya dengan malu-malu yang memperlihatkan lesung di kedua pipinya. Sejuta tanya ingin kulontarkan pada gadis yang berusia 17 tahun itu. Pertanyaan yang sudah di ujung lidah tidak bisa kukeluarkan. Aku tidak ingin dianggap guru yang suka mencampuri urusan murid. Jadi kubiarkan saja Aling lewat di depanku dengan kepala tertunduk meninggalkan kelas.

“Aling, tunggu!”panggilku.
Aling menoleh padaku, “Ada apa, Bu?”
Aku menunjukkan rok yang dipakainya terkena bercak darah.
“Kamu lagi datang bulan ya?”tanyaku lembut.

Aling menoleh kebelakang badannya, melihat roknya. “Aku…aku tidak tahu kalau lagi datang bulan,” katanya pelan. Mukanya memerah seperti menahan malu.
“Kalau nggak salah Ibu punya persediaan pembalut untuk berjaga-jaga.” Aku mengaduk isi tasku untuk mencari pembalut yang selalu ada di dalam tasku. “Pakailah!”

“Tapi…”
“Nanti noda darah di rokmu makin banyak,”kataku sambil menyodorkan pembalut kepadanya. Aling kelihatan ragu tapi diambilnya juga pembalut tersebut.
Selesai memakai pembalut, Aling kembali ke kelas mengambil tasnya yang ditaruh diatas meja. Aling agak terkejut melihatku  masih berada di kelas.

“Bagaimana kalau kita pulang bareng?”tawarku.
“Eh….”
“Ibu nggak ada kawan ngobrol, mau kan menemani Ibu?” kataku sambil menggandeng tangannya sehingga Aiking tidak punya kesempatan untuk menolak.

Sambil berjalan, aku berpikir keras mencari kata-kata yang tepat dan tidak menyinggung perasaannya untuk menanyakan masalah yang sedang dihadapinya. Aku jadi seperti peramal saja, menebak Aling ada masalah berdasarkan ekspresi muka. Wajah Aling cantik tapi tidak ada ekspresi hidup di kedua matanya yang sipit. Matanya kosong seperti menyembunyikan sebuah nestapa yang dalam. Mukanya tampak kuyu dan lelah seperti sedang menanggung beban hidup.

“Ling, Kamu kok diam saja? Nggak pengen cerita soal pacar dengan Ibu?” Aku memulai topik yang sangat disukai remaja, pacar.
Aling hanya tersenyum masam. “Tidak ada yang bisa diceritakan. Tidak ada pacar, lagian siapa yang mau jadi pacarku?”ujarnya getir.
“Masak gadis secantikmu tidak ada pacar?”godaku setengah tidak percaya dengan ucapannya.

Aling menggelengkan kepalanya untuk meyakinkanku. Mulutku sudah gatal. Aku sudah tidak tahan untuk bertanya lebih jauh lagi. “Ling, boleh tidak Ibu tanya sesuatu denganmu? Tapi kamu jangan tersinggung, ya’?”

“Ibu mau tanya apa?” Aling balas bertanya dengan gugup.
Mungkin dimulai dari isi karangannya, putusku dalam hati. “Ibu cuma pengen tahu alasan kenapa Kamu buat karangan ini?” Kamu menulis ini hanya karena malas atau ada sebab lain? Boleh Ibu tahu alasannya?” tanyaku hati-hati sambil menunjukkan karangannya.

Aling menatapku tajam. Tiba-tiba dia rebut kertas yang ada ditanganku lalu berlari meninggalkanku yang terbengong-bengong dengan sikapnya barusan. Itu merupakan pertemuanku yang terakhir dengan Aling. Keesokan harinya Aling tidak masuk sekolah. Begitu juga dengan hari-hari  berikutnya. Aku terus menunggu dan berharap agar Aling kembali bersekolah. Aku ingin meminta maaf atas keingintahuanku yang mungkin menyinggungnya. Biarlah Aling tetap dengan sikap sedihnya yang misterius, tak perlu aku tahu. Mungkin ada benarnya juga perkataan ibuku yang menasehatiku agar tidak sering ikut campur urusan orang lain.

Setelah seminggu Aling tak menampakkan batang hidungnya, aku mengutus siswa untuk ke rumah Aling untuk menanyakan kabarnya. Menurut orangtuanya, Aling kabur seminggu yang lalu dan belum kembali. Aku kembali bertanya-tanya mengapa Aling kabur dari rumahnya. Apa yang coba dihindarinya? Penyakit kepoku kambuh lagi.
Aling seperti ditelan bumi. Tidak ada kabar beritanya. Enam bulan kemudian, aku mendapat sepucuk surat berwarna biru. Dari Aling.

Bu, masih ingat dengan Aling? Yang pernah dengan kasar merampas kertas berisi karangan dari tangan Ibu. Atas kejadian itu, Aling minta maaf. Saat itu Aling belum siap untuk berbagi. Dulu Ibu pernah menanyakan alasan kenapa membuat karangan yang nyeleneh tapi tidak Aling jawab. Mungkin Ibu akan menstempel Aling sebagai anak yang durhaka.

Mendengar cerita tentang kasih sayang orangtua kepada anaknya selalu membuat hati Aling sakit sekaligus iri. Cerita itu seperti dongeng pengantar tidur. Kenyataan yang harus Aling hadapi sungguh berbeda. Sejak kecil Aling terbiasa dengan hukuman dan cacian dari orangtua. Mungkin ibu beranggapan Aling nakal dan bandel sehingga wajar mendapat hukuman.

Aling berusaha menjadi anak yang patuh, semua pekerjaan rumah Aling yang mengerjakannya. Mulai dari mencuci, memasak hingga beberes rumah. Tapi Aling tetap dimarahi. Aling merasa menjadi tempat untuk melampiaskan rasa marah papa dan mama. Aling berusaha bersikap tabah dan sabar.

Tapi Aling tidak bisa sabar, ketika suatu malam, mama membangunkan dan memaksa Aling untuk melayani nafsu bejat seorang lelaki tua. Demi segepok uang, mama tega menjual kehormatan Aling. Papa mama kalah judi dan Aling harus menebus kekalahan itu dengan kehormatan diri. Bu, sejak saat itu kehidupan Aling seperti di neraka. Tiap hari harus melayani laki-laki yang tidak Aling kenal. Kalau Aling menolak maka tamparan dan tendangan akan hinggap di tubuh.

Aling selaku berdoa agar setiap hari dapat menstruasi karena saat datang bulan Aling terbebas dari ‘tugas melayani’. Uang dari hasil menjual tubuh, tidak pernah Aling nikmati. Semuanya diambil papa mama yang kemudian dihabiskan di meja judi. Ibu tentu ingat pernah memberi sebuah pembalut. Bukannya Aling tidak tahu sedang datang bulan tapi karena tidak memakai pembalut makanya bocor. Aling hanya memakai handuk kecil sebagai ganti pembalut.

Uang untuk membeli pembalut pun tidak diberikan mama. Terkadang Aling berharap mereka bukan orangtuaku. Tapi sialnya, merekalah yang menyebabkan Aling terlahir ke muka bumi ini. Kebencian terhadap mereka sudah mengarat dihati. Entah apa yang ada dipikiran mereka sehingga begitu tega terhadap anak kandungnya.

Tapi itu dulu. Sekarang Aling berusaha mengikis rasa benci dan dendam. Aling tidak ingin terpaku pada masa lalu. Hanya dengan memaafkan mereka, Aling bisa terbebas dari masa silam yang kelam. Walau tidak gampang, Aling mau mencobanya. Aling justru kasihan kepada orangtua yang tak bisa menumbuhkan rasa cinta kepada anaknya, berperang dengan nurani. Aling mau membagi kisah kelam termasuk bercerita kepada Ibu untuk membagi beban. Agar langkah Aling ke depan lebih ringan.

Saat ini Aling sudah menikah dengan laki-laki yang lebih pantas jadi kakek Aling. Bu, bersamanya Aling baru menyadari bahwa kasih sayang itu manis dan indah. Hangat seperti matahari yang menghangatkan jagat raya. Hidup bahagia dan nyaman. Semoga selamanya.

Aku menghapus airmataku. Sungguh berat cobaan yang harus dipikul Aling. Ternyata tidak semua orang tua mampu memberikan kasih sayang kepada anaknya. Hal ini membuatku bersyukur mempunyai orangtua yang sayang kepadaku walau terkadang mereka terlalu cerewet. Tiba-tiba aku ingin menelepon ibu.

Oleh: Emi Afrilia Burhanuddin

(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(ful)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s