Surga Adalah Ibu

Posted on Updated on

 

AKU langsung mengacungkan jari, menginterupsi Pak Hasan, guru agama yang belum tuntas menerangkan maksud dari hadits Nabi yang berbunyi surga itu berada di telapak kaki ibu. “Ya?”  Pak Hasan tak bisa menyembunyikan kejengkelannya karena interupsiku.

“Pak, kenapa surga itu ada ditelapak kaki ibu? Kenapa tidak ada di wajah atau hati seorang ibu?”berondongku tak puas.

Pak Hasan tergagap, tidak siap dengan jawaban atas pertanyaanku. “Menurutmu kenapa?”Pak Hasan mengembalikan pertanyaan kepadaku, menutupi ketidaktahuannya.
Aku mengangkat bahu, tidak tahu.

Sebenarnya aku ingin protes, kenapa surga itu harus berada di telapak kaki ibu, kenapa bukan bagian tubuh ibu yang lain. Cuma aku tidak tahu harus protes pada siapa. Aku membayangkan betapa buruk surga yang akan aku tempati nanti. Soalnya kaki ibuku penuh dengan kutu air akibat terlalu sering berendam di air sabun, belum lagi tumitnya yang pecah-pecah sehingga menimbulkan garis-garis hitam yang sangat tidak sedap.

Lebih parahnya lagi, jempol ibu sangat bau karena kuku kakinya sering tumbuh di dalam daging alias cantengan yang membuat pinggir kukunya sering mengeluarkan nanah yang berbau busuk.

Aku lebih senang kalau surga disebutkan berada di wajah karena wajah ibuku sangat cantik khas perempuan Sunda. Alisnya matanya seperti semut yang berbaris, matanya selalu bersinar seperti bintang kejora di malam hari. Kalau ibu tersenyum, akan terlihat lesung di pipi kirinya yang melengkapi kecantikan wajahnya.

Atau kenapa juga tidak disebutkan surga itu berada di tangan ibu karena tangan ibu sering digunakan untuk menggendong anaknya. Membelai tubuhku untuk menghantarkanku ke alam mimpi. Mendekap dikala aku terbangun ditengah malam karena mimpi buruk. Memelukku untuk menyemangatiku agar tidak takut mendengar suara halilintar. Dan terkadang memberiku pukulan dipaha jika aku nakal.

Menurut keterbatasan akalku yang saat itu masih berusia 12 tahun, telapak kaki tidak banyak berkontribusi dalam mengasuh ataupun membesarkan anak. Telapak kaki hanya digunakan untuk berjalan dan menyanggah tubuh agar bisa berdiri tegak. Belum pernah aku dibelai ibu menggunakan telapak kakinya. Kalaupun ibu mau membelai memakai kaki, tentu aku akan menolaknya, soalnya bau.  Menurutku telapak kaki ibu hanya berkontribusi mengajakku berjalan-jalan saja. Tidak lebih.

Seiring bertambahnya usiaku, pertanyaan iseng kenapa surga itu berada di telapak kaki ibu mulai terlupakan. Aku disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan hidup yang lain yang lebih menggugah rasa ingin tahuku. Pertanyaan itu kembali mengusik kalbuku saat aku menggenapi kesempurnaan takdirku sebagai seorang perempuan, setelah tiga bulan menikah, aku dinyatakan hamil.

Aku kembali mempertanyakan kenapa surga itu tidak berada dirahim seorang ibu. Karena di dalam rahim, dari segumpal darah yang beku bisa menjadi segumpal daging hingga bermetamorfosa jadi seorang janin yang sempurna. Walaupun janin itu seperti lintah yang dengan rakus mengisap sari-sari makanan dalam tubuhku, tidak pernah ada keluhan yang keluar dari mulutku. Justru aku merasa sangat bahagia. Biarpun nafasku menjadi pendek dan cepat terengah-engah karena harus berbagi nafas kehidupan dengan bayi yang kukandung, aku menjalaninya dengan penuh syukur.

Aku belajar mengenai bentuk cinta yang lain. Berbeda  yang kurasakan  saat bersama  laki-laki yang kini menjadi suamiku. Cinta yang bersyarat. Aku mencintai suamiku setulus hati tapi aku juga mengharapkan balasan atas cintaku. Aku berharap suamiku juga mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.

Saat hamil, aku baru mengenal cinta yang lain. Sebuah cinta yang tak bersyarat. Aku mencintai bayi yang kukandung walaupun aku tidak tahu seperti apa rupanya nanti saat lahir, apakah ia akan berwajah jelak ataupun rupawan. Aku mencintainya biarpun tidak ada kepastian apakah ia akan balas mencintaiku atau tidak. Aku mencintainya karena cinta itu sendiri.

Saat memasuki kamar bersalin, aku kembali mempertanyakan kenapa surga ada di telapak kaki ibu. Kenapa bukan prosesi kelahiran yang menjadi surga? Saat akan melahirkan anakku, aku tidak peduli dengan rasa sakit yang kualami. Sekujur tubuh kurasakan sakit, perut terasa mulas yang dahsyat dan seakan mau meledakkan diriku. Keringat dingin membanjiri diriku, tapi tidak ada kata-kata penyesalan yang keluar dari mulutku. Aku hanya mengaduh kesakitan bukan menyesali diri harus mengalami  ini.

Aku tidak peduli dengan suamiku yang sibuk ke sana ke mari karena gugup menghadapi persalinanku. Aku juga tidak peduli apakah aku nanti akan hidup atau harus merenggang nyawa. Yang ada dalam pikiranku saat itu hanya keinginan anak yang kulahirkan bisa selamat dan sempurna. Aku sudah ikhlas kalaupun takdir mengharuskanku meninggal saat melahirkan nanti. Aku hanya ingin sebelum nyawa berpisah dari tubuhku, aku mendengar tangis pertama bayi yang telah kukandung dan memastikan ia lahir dengan tubuh yang sempurna.

Aku menangis karena teringat kenakalan dan kesusahan yang pernah kulakukan pada ibu. Ternyata sangat berat proses yang harus dilalui seorang perempuan sebelum ia diwisuda menjadi ibu melalui proses kelahiran. Aku ingat setelah dokter mengatakan pembukaanku telah lengkap dan aku harus masuk kamar bersalin, Aku mencium tangan ibu dengan perasaan takzim yang belum pernah kurasakan. Aku meminta maaf dan ampun atas semua hal yang membuat hati ibu terluka. Ibu menganggukkan kepala sambil berlinang air mata.

“Tidak perlu meminta maaf, karena Ibu sudah memaafkan tanpa perlu kau minta. Ibu berdoa biar ibu saja yang menanggung beban kesakitan yang kau rasakan saat ini. Ibu ikhlas menanggungnya. Melihat kau kesakitan seperti ini dan ibu tak berdaya untuk menolongmu membuat  hati ibu seperti mau remuk,”kata ibu terbata-bata diantara isak tangisnya.

“Ibu mau mendampingiku itu sudah sangat membantu dan memberi semangat. Doakan aku, biar bisa melahirkan dengan selamat,”pintaku sebelum perawat memapahku ke ruang bersalin.

Rasa sakit yang menderaku membuatku lupa bagaimana cara mengejan yang benar dan bernafas yang tepat. Dua hal yang kupelajari selama mengikuti sesi senam dan yoga hamil, mendadak hilang dalam ingatan. Setelah dua jam yang menyiksa fisik dan batin, akhirnya anakku terlahir didunia dengan selamat. Mendengar  tangisnya yang bergema diruangan bersalin, sirna sudah semua sakit yang kurasakan berganti dengan rasa bahagia yang begitu membuncah didada. Aku telah menjadi seorang ibu!

Sebagaimana dengan bayi diseluruh dunia, anakku terlahir tanpa dilengkapi dengan buku panduan bagaimana cara mengasuh dan membesarkannya. Tidak cukup hanya mengandalkan insting sebagai seorang ibu, aku harus terus belajar. Aku belajar dari pengalaman ibu dan mertuaku ketika mengasuhku dan suamiku dulu. Aku juga jadi rajin membaca buku-buku tentang pengasuhan anak. Pasca melahirkan, hubunganku dengan ibu kian erat. Sebisa mungkin aku berusaha menyenangkan hati ibu dengan bertutur dan bersikap manis. Bayang-bayang rasa sakit saat melahirkan terus menghantuiku dan menjadi rem jika aku akan berkata-kata keras pada ibu.

Rasa sayang dalam diriku semakin besar dan mengkristal  mengikuti pertumbuhan anakku. Semakin aku melimpahkan kasih sayang kepada anakku, rasa itu terus bertambah. Kenapa rasa sayang seorang ibu tidak diibaratkan sebuah surga? Karena rasa sayanglah seorang ibu rela bangun tengah malam hanya untuk mengganti popok yang basah kena kencing.

Rasa sayang juga yang membuatku tambah panjang berdoa kepada Allah. Dalam setiap doa yang kulantunkan, aku selalu menyelipkan doa khusus untuk kebaikan anakku di dunia maupun di akhirat nanti. Aku selalu meminta yang terbaik untuk anakku. Aku sangat yakin, namaku juga selalu ada dalam setiap doa ibu. Walaupun aku sudah menikah dan hidup terpisah namun doa ibu selalu menyertai setiap langkah hidupku.

Dan aku pun baru menyadari bahwa keberhasilan yang aku capai sekarang ini bukan murni hasil kerja kerasku tapi berkat doa yang selalu ibu panjatkan untukku. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukku. Doa ibu seperti mercu suar yang menuntunku jika aku mulai salah melangkah. Doa ibu juga menjadi pelita ketika gelapnya nafsu mulai menguasai hati. Doa ibu mengantarkanku menjemput kebahagiaan berumah tangga
***

Badanku menggigil dalam hangatnya dekapan suamiku. Aku sepenuhnya tidak menyadari apa yang terjadi. Aku merasa ada sosok lain yang memerintahkan tubuhku untuk bergerak. Aku hanya menuruti apa yang orang lain perintah. Aku terlalu lemah untuk membantahnya. Perlahan suamiku membimbingku mendekati ibu. Seperti robot, aku pun patuh.

Aku merasa pengap dan sulit bernafas. Bukan karena ramainya orang yang ada disekelilingku tapi karena dadaku sesak tidak bisa menanggungkan rasa kehilangan sosok ibu. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang telah melahirkanku sekarang sudah terbujur kaku di hadapanku.

“Ayo, cium ibumu untuk yang terakhir kalinya!” perintah seseorang. Aku tidak tahu siapa yang memerintahkan itu.

Ibu sudah terbungkus rapi kain kafan. Hanya telapak kaki dan mukanya saja yang belum ditutup. Walau mata ibu terpejam rapat tapi terlihat sebuah senyuman kecil di bibirnya yang pucat. Aku mencium kaki ibu dengan takzim. Kaki ibu terasa sangat dingin. aku seperti mencium bongkahan es yang diukir seperti kaki. Rasa dingin itu menjalari perasaanku. Aku merasa tubuhku menjadi ringan.

Sebelum mencium muka ibu, aku puaskan diriku untuk memandang wajah ibu. Agar bisa kusimpan didalam seluruh ruang memori otakku. Aku cium kening ibu. Dan lagi-lagi hanya ada rasa dingin yang kurasakan. Membekukan nestapa yang kurasakan.

“Ibu, maaf….” hanya itu yang bisa keluar dari bibirku. Ada banyak kata yang ingin kubisikkan tapi semuanya sirna karena sedih yang tak terperi.

Saat jenazah ibu dimasukkan ke dalam keranda, kesadaranku kembali. Rela atau tidak, aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak akan berjumpa lagi dengan ibu. Tidak akan ada lagi orang yang mencintaiku sedalam cinta ibu. Namaku tidak akan disebut lagi dalam doa-doa panjangnya. Airmata yang kutahan dari tadi keluar tanpa bisa dicegah.

Aku belum bisa membahagiakan ibu, belum tuntas aku melaksanakan bakti tapi ibu keburu dijemput maut. Kenapa terasa sempit waktu untuk membalas kebaikan ibu. Terkenang percakapan dengan ibu ketika aku hamil anak pertama dulu.

“Kamu tidak akan pernah bisa membalas kasih sayang seorang ibu. Akan kering air laut jika digunakan sebagai tinta untuk menuliskan seberapa luas kasih dan cinta ibu. Kalau kamu mau membalas kasih sayang ibu adalah dengan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak.”

Kenapa ketika ibu wafat aku baru memahami mengapa Nabi mengatakan surga itu berada di telapak kaki seorang ibu. Karena ibu diciptakan hakikatnya untuk menjadi surga untuk anaknya. Hidupnya didedikasikan selalu memberi kedamaian dan kasih sayang untuk anak-anaknya. Dan sekarang surgaku telah pergi untuk kembali kepada pencipta-Nya. Air mataku makin menderas ketika jenazah ibu mulai dibawa keluar rumah.

Melihatku bersimbah air mata, ketiga anak-anakku ikut-ikutan menangis sambil memeluk badanku. Ya, ibuku surgaku telah tiada. Sekarang aku yang harus menjadi surga untuk anak-anakku.

(Untuk Surgaku : Almarhumah Sri Mulyani)


Oleh : Emi afrilia Burhanuddin
 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(ful)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s