Amplop yang Terbuka

Posted on

MUNGKIN ini pengaruh hati yang sedang senang, matahari yang bersinar terik tidak begitu terasa panas menyentuh kulit, rumah yang berantakan karena diobrak-abrik anakku pun tidak mampu memancing amarahku.

Bahkan ketika kedua jagoan kecilku berkelahi untuk memperebutkan mobil remote control, aku tanggapi dengan senyuman saja sembari memisahkan mereka. Tidak ada teriakan, cubitan di paha atau telinga yang dijewer seperti biasanya.

Tanggal satu di kalender seperti lukisan mahakarya seorang maestro yang mampu membuat hatiku bersenandung riang. Waktunya suamiku menerima gaji atas pengabdiannya selama satu bulan.

Dan itu artinya tempayan yang sudah kosong beberapa hari terakhir akan terisi beras lagi, dompetku yang kurus kering akan menjadi gemuk, Wak Mar tukang sayur langgananku akan tersenyum lebar karena aku bayar lunas hutang semua bon sayur mayur, suara denging dari stand meteran listrik yang memberi sinyal harus segera diisi ulang akan terhenti.

Sebelum suamiku pulang, aku harus memastikan bahwa rumah sudah rapi, anak-anak sudah mandi sore dan yang terpenting, aku sudah berdandan cantik untuk menyambut kedatangannya. Tak lupa aku siapkan secangkir teh hangat dan sepiring singkong goreng untuk mengganjal perutnya.

Sambil menyapu, otakku sudah berpikir membuat anggaran belanja yang sesuai dengan gaji suamiku. Harga ikan dan sayur yang selalu mengalami kenaikan membuatku harus pandai-pandai membuat menu yang enak tapi tidak keluar banyak uang. Karena pemasukan hanya berasal dari gaji suami maka setiap sen uang yang keluar harus dihitung dengan cermat.

“Hore, Bapak pulang!!” Anak-anakku berjingkrak riang melihat motor suamiku memasuki halaman. Dengan senyum yang paling lebar, aku sambut suamiku. Persis menyambut pahlawan yang baru pulang dari medan perang membawa kemenangan.

Ritual yang selalu aku nantikan adalah saat suamiku menyerahkan amplop gajinya kepadaku. Biarpun jaman sudah canggih namun di instansi tempat suamiku bekerja masih menggunakan cara tradisional dalam sistem gaji. Membayar tunai kepada pegawainya dalam sebuah amplop tertutup berwarna coklat bukan melalui transfer bank.

Suamiku akan menyerahkan amplop gaji yang masih tertutup. Semua gaji diserahkannya padaku untuk kukelola dan seperti anak kecil, suamiku akan menadahkan tangannya meminta jatah uang rokok dan transport selama satu bulan.

Seusai mandi, suamiku minum beberapa teguk teh sambil matanya tak lepas dari televisi. Aku tetap memasang senyum terbaik walau hatiku sudah tak sabar menanti pemberian amplop gaji. Aku harap setelah minum teh, suami langsung menyerahkan gajinya padaku. Namun harapanku tidak terkabul, kedua anakku lebih dulu menyeret bapaknya ke kamar untuk diajak main.

“Mas!”Aku berdehem sejenak.”Gajinya mana?”Tembakku langsung.

“He..he.. Kirain lupa sama jatah bulanan,”candanya sambil menyerahkan amplop gajinya.

Lupa? Emang lapar bisa dibuat lupa, bayaran les anak bisa dibuat tidak ingat? Balasku dalam hati. Aku tercekat sejenak melihat amplop coklat yang ada di tanganku.

Amplop itu sudah terbuka. Sejak awal menikah, suamiku selalu memberikan amplop gaji yang tertutup rapat. Dan itu sudah berlangsung hampir tujuh tahun. Segera aku keluarkan isinya dan kuhitung jumlahnya. Uangnya berkurang. Sejumlah dengan jatah transport dan rokok suamiku selama sebulan.

Aku merasa tidak nyaman menerima amplop gaji yang terbuka. Walau secara teori, jatah bulananku tidak berkurang namun aku tetap merasa kesal. Ada banyak tanya dan curiga yang muncul diotakku. Apakah suamiku sudah tidak mempercayaiku lagi atau saat di kantornya ada kebutuhan mendadak yang mendesak yang membuatnya harus membuatnya membuka amplop gaji sebelum menyerahkan kepadaku. Rasa senang dihatiku langsung sirna dalam sekejap. Kebiasaan menciumi bau uang kertas yang masih baru pun malas kulakukan.

***

Perihal amplop gaji yang terbuka membuat hatiku dilanda mendung. Ingin kutanyakan langsung pada suami tapi aku takut akan memicu pertengkaran dengannya. Membahas masalah keuangan dengan suami termasuk masalah yang sensitif. Harus dibicarakan dengan hati-hati dan waktu yang tepat. Lagian aku juga bingung mau mulainya dari mana. Masak aku harus mengungkapkan ketidaknyamananku menerima amplop gaji yang terbuka dengan suami, takutnya ia malah menganggapku aneh dan mentertawaiku.

Kalau reaksi yang terjadi sebiknya, ia ganti yang tersinggung dan menuduhku tidak mempercayainya, nah itu bisa berabe. Suamiku kalau marah suka merajuk berkepanjangan. Jadi kesimpulannya, lebih baik kusimpan saja perasaan yang menjadi ganjalan dihati.

Rasa tidak nyaman itu makin membesar ketika suami pulang dari perjalanan dinasnya, ia tidak menyinggung akan mengajak kami jalan kemana atau makan di restoran apa. Sudah jadi kesepakatan tidak tertulis, uang jalan yang diterima suami itu masuk dalam anggaran rekreasi. Walau uang yang diterimanya tidak besar namun bisa menghadirkan kebahagian kecil untuk keluarga kecilku. Sesekali menikmati makan di restoran waralaba ayam goreng atau sekedar cuci mata di mal menemani anak menikmati arena bermain yang berbayar tanpa harus menggunakan uang gaji bulanan.

Saat bercakap-cakap menjelang tidur, sempat aku singgung sekali lewat. “Gimana perjalanan dinasnya?” Hallo, mana uang SPD-nya? “Seperti biasa,” jawabnya sambil menguap lebar dan menarik selimut. Bersiap untuk berlayar ke pulau kapuk.

Ini tidak seperti biasanya, gumamku dalam hati. Mau mencecarnya lebih lanjut, aku tidak tega. Soalnya suamiku kelihatan sangat capek dan butuh istirahat. Lebih baik aku menyusulnya tidur walau belum ada jaminan akan nyenyak tidurku.

Amplop gaji yang terbuka dan tidak adanya laporan kemana perginya uang SPD terulang pada bulan berikutnya. Rasa curigaku makin menebal. Aku takut suamiku mulai berselingkuh. Diam-diam, aku utak-atik HP-nya untuk membaca SMS dan melihat riwayat panggilan teleponnya. Tidak ada yang aneh.

Sebelum dimasukkan ke mesdin cuci, baju kerjanya aku endus-endus terlebih dahulu. Tidak ada wangi parfum yang asing di hidungku. Hanya bau keringat dan sisa wangi parfum isi ulang yang tercium.

Sikap suamiku pun tidak ada yang mencurigakan. Ia pulang tepat waktu. Hanya sesekali saja telat jika harus lembur. Apa mungkin ia berselingkuh saat jam makan siang? “Mas, lagi ngapain?”tanyaku ditelepon. Sengaja aku menelponnya tepat jam istirahat. Untuk mengecek keberadaannya.

“Lagi kerjalah,”ucapnya sedikit ketus.
Hatiku berdesir. Tidak biasanya suamiku ketus kepadaku. Aku terdiam membuat jeda di antara kami.
“Kemarin Anton cuti mendadak karena mertuanya meninggal. Terpaksa aku harus yang memberesi pekerjaan yang ditinggalkannya,” suamiku dengan nada yang lebih ramah. Aku menarik nafas lega. “Nggak keluar untuk makan siang?”

“Tidak. Tadi sudah minta tolong sama OB untuk belikan nasi padang. Tumben, siang-siang nelpon? Ada apa? Anak-anak buat ulah lagi ya?”berondongnya membuatku harus cepat memutuskan telepon.

Apakah ia berselingkuh saat dinas keluar kota? Dalam sebulan memang suamiku kerap keluar kota beberapa kali. Namun ia tidak pernah menginap. Selalu pulang ke rumah walau tengah malam baru tiba. Lagian, ia tidak pernah sendirian kalau dinas, selalu bersama teman satu timnya yang aku kenal orangnya.

Karena suamiku tidak menunjukkan gelagat orang yang sedang berselingkuh, maka aku berusaha berpikir positif saja ketika menerima amplop gaji yang terbuka.Walau hatiku tetap kesal dan tidak nyaman. Selagi jatah bulanan tetap utuh untuk apa berpikir yang tidak-tidak. Buang energi saja, demikian aku menghibur hati yang diselimuti kesal. Mungkin aku terlalu berburuk sangka saja.

Siapa tahu suamiku sedang menyiapkan sebuah kejutan untukku. Tapi pikiran ini cepat aku tepis. Suamiku bukan tipe lelaki romantis. Tanggal ulang tahunnya saja ia lupa, bagaimana ia mau mengingat ulang tahunku. Jangan harap dapat kado kalau tidak kuminta terlebih dahulu

***

Setelah lima bulan berturut-turut menyerahkan amplop gaji yang sudah terbuka, kali ini suamiku menyerahkan amplop gaji yang masih tertutup. Hatiku melonjak gembira. Semuanya kembali normal. Suamiku pun tampak riang hatinya. Mulutnya tak henti menyenandungkan lagu dangdut kegemarannya.

Aku tahu ini waktu yang tepat untuk menanyakan perihal amplop gaji yang terbuka dan larinya uang SPD.
“Mas, ada kebutuhan yang tidak aku ketahui ya?”pancingku. Suamiku menggeleng kepala.”Emang kenapa?”

“Soalnya sudah lima kali mas menyerahkan amplop gaji yang terbuka padaku dan mas juga tidak cerita kemana habisnya uang SPD,”ujarku dengan nada yang selembut mungkin agar suamiku tidak tersinggung. Sumpah, sesudah mengungkapkan ini hatiku begitu lega dan plong.

“Oh itu.Aku sengaja menyisihkan uang transport dan SPD untuk membeli ini,” suamiku merogoh sakunya dan mengeluarkan seuntai kalung emas. Mataku berbinar, hatiku membuncah dipenuhi rasa bahagia.

“Lima bulan yang lalu, aku pernah menemani Anton ke pegadaian. Menebus gelang emas istrinya. Pulang dari sana, aku jadi kepikiran dengan kalung kesayangan ibu yang tergadai untuk membayar uang kuliahku. Karena tidak ada uang, maka kalung itu tidak pernah tertebus. Walau ibu mengikhlaskan kalungnya demi kuliahku tapi aku tahu ibu agak sedih. Soalnya kalung itu pemberian almarhum nenek. Aku ingat pernah berucap janji dalam hati suatu saat akan mengganti kalung ibu. Sengaja aku irit uang rokok dan transport. Uang SPD yang kudapat juga kusimpan demi membelikan kalung untuk ibu,” ucap suamiku gembira. “Aku senang bisa memenuhi janjiku pada ibu.”

Entah kenapa mendengar ucapan suamiku barusan, hatiku menjadi tidak nyaman lagi. Bahkan lebih parah dari yang kurasa selama lima bulan terakhir.

Oleh : Emi Afrilia Burhanuddin

Penulis adalah mantan wartawati, sekarang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan penulis lepas. Berdomisili di Lahat, Sumatera Selatan.

(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(ful)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s