Aku Ingin Emak Tersenyum

Posted on Updated on

KEGEMBIRAAN terpancar jelas di wajah Bejo, ada binar kejora di bening matanya yang sendu. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum lebar ketika melihat Dokter Andre datang menghampirinya.

“Pagi, Dokter!” sapa Bejo riang.
“Pagi, Jagoan! Semalam ya masuknya?”tanya dokter spesialis jantung itu sambil menempelkan stetoskop di dada Bejo.
“Iya!”
“Kayaknya kamu kecapean bermain. Boleh main tapi jangan terlalu capek dan lelah biar jantungmu tidak kambuh lagi, oke?”
Bejo menganggukkan kepala.

“Nggak bosen, bolak-balik masuk rumah sakit?”goda Dokter Andre sambil mengusap lembut kepala Bejo.
“Kalo bosen nanti gak bisa sembuh sakitnya. Lagian masuk rumah sakit juga enak.”
“Kenapa enak?”
“Soalnya bisa terus-terusan ketemu dengan dokter. Pak dokter kan baik, suka kasih makanan dan hadiah sama aku,”ujar Bejo polos.

Dokter Andre tersenyum kecil mendengar celoteh Bejo. Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah miniatur mobil-mobilan. “Hadiah untuk pasien yang paling nurut!” Dokter Andre mengangsurkan mobilan ke Bejo.
“Terima kasih Pak Dokter! Wow mobilannya keren. Pintunya bisa dibuka dan ditutup. Persis mobil sungguhan,” Bejo tampak kegirangan. Tidak memperdulikan ketika jarum suntik ditusukkan ke kulitnya.

“Kalo besar mau jadi apa? Karena sering bolak-balik masuk rumah sakit, gimana kalo besar jadi dokter aja?”
Bejo menggelengkan kepala.
“Kenapa tidak mau?”
“Aku kan tidak pinter!”
“Siapa yang bilang begitu?”
“Kawan-kawan suka mengataiku idiot!”kata Bejo sedih.
“Jangan didengarkan perkataan kawanmu. Mereka hanya iri karena kamu bisa bolak-balik masuk rumah sakit tanpa bayar,”hibur Dokter Andre.
“Aku tidak mau jadi apa-apa. Aku cuma mau emak tersenyum bangga denganku,”ucap Bejo sambil melirik takut-takut ke emaknya.

Mendengar percakapan anaknya, Marni yang duduk di bibir ranjang hanya bisa menghela nafas panjang. Ada perih yang menusuk hatinya. Bukannya Marni tidak mau tersenyum pada Bejo, ia mau tapi ia lupa bagaimana caranya tersenyum. Seingat Marni, dirinya terakhir tersenyum adalah ketika ia melahirkan Bejo. Setelah itu otot-otot disekitar bibirnya menjadi kaku sehingga ia tidak pernah tersenyum lagi.

Nestapa sepertinya menjadi sahabat Marni yang abadi. Umur tujuh tahun, ia harus kehilangan bapaknya karena penyakit TBC. Setahun kemudian ibunya menghadap Sang Pencipta karena penyakit yang sama. Tidak ada sanak saudara yang mau menampung Marni dan kelima saudaranya yang tidak mempunyai warisan harta dari orang tua.

Dengan usia yang sangat belia, Marni memberanikan diri melamar pekerjaan. Tidak ada yang mau menerima dirinya yang tidak punya ijazah. Untunglah ada seorang ibu yang baik hati mau menampungnya memberinya pekerjaan sebagai pembantu. Dengan sepenuh hati, Marni mendedikasikan hidupnya untuk melayani majikannya. Lupakanlah masa muda yang penuh kecerian. Baginya hanya bekerja dan bekerja agar perutnya bisa terisi.

Marni tidak pernah mengenal sosok laki-laki. Bukannya ia menutup diri tapi tidak ada lelaki yang sudi melirik dirinya yang mempunyai wajah sangat pas-pasan dan miskin. Ia pasrah jika harus hidup sebagai perawan tua. Baru ketika ia menginjak usia 40 tahun, ada seorang tukang ojek yang memberi rasa di hatinya. Harinya menjadi berwarna-warni. Ketika lelaki itu melamarnya tanpa ragu Marni menganggukkan kepala. Kebahagiaannya makin bertambah setahun setelah pernikahannya lahirlah seorang bayi laki-laki. Marni memberinya nama Bejo. Ia berharap agar hidup anaknya selalu beruntung seperti namanya.

Anak yang dilahirkannya lemah dan sering sakit-sakitan. Dokter menvonis anaknya down syndrome alias mempunyai keterbelakangan mental. Vonis dokter membuat suaminya menghilang seperti di telan bumi. Tinggallah Marni seorang diri mengasuh Bejo dengan segala keterbatasannya. Ketika Bejo berumur lima tahun, ia terserang demam dan kulitnya tiba-tiba membiru dengan nafas tersengal-sengal seperti orang sedang menghadapi sakratul maut.

“Anak ibu terkena penyakit jantung bawaan berupa penyempitan katup paru atau pulmonary stenosis. Dengan penyempitan ini, bilik kanan harus bekerja keras memompa darah sehingga makin lama makin membesar. Beruntung pada usia lima tahun sudah terdeteksi penyakitnya sehingga bisa segera diobati,” kata Dokter menghibur Marni.

Marni hanya terdiam. Kata-kata barusan sulit dikunyah otaknya. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Sudah kering air matanya untuk meratapi nasibnya yang tak pernah lepas dari kata nestapa. Apakah belum cukup ia dikaruniai seorang anak yang down syndrome? Kenapa harus ditambah lagi dengan penyakit jantung pula? Untuk mengucapkan nama penyakitnya saja Marni tidak bisa sementara ia harus merawat anaknya. Apa yang harus dilakukannya? Kerut di wajah Marni makin bertambah dan otot-otot di sekitar bibirnya makin mengeras.

Untunglah Allah masih sayang padanya. Ada Askeskin yang dibuatkan Pak RT, membuatnya terbebas dari biaya rumah sakit. Marni pun bisa sedikit bernafas lega. Ia tidak perlu memusingkan soal biaya berobat. Yang dipusingkannya adalah bagaimana nasib anaknya kelak jika ia meninggal nanti apalagi usianya sekarang sudah menginjak setengah abad. Tidak akan ada yang mau menampung anak idiot seperti Bejo. Hatinya makin makin hancur jika harus membayangkan anaknya hidup terlunta-lunta.
Walaupun sudah berusia sepuluh tahun, Bejo belum bisa mandiri. Ia sangat tergantung pada Marni untuk melakukan aktivitas sehari-harinya mulai dari memandikannya, memakaikan baju hingga menyuapinya makan.

Pernah, Marni menyuruh Bejo mandi sendiri. Hasilnya, sabun mandi habis dimakan Bejo yang membuatnya harus masuk rumah sakit lagi. Tak terhitung sudah berapa kali Bejo masuk rumah sakit. Saking seringnya ia di opname. Rumah sakit seperti rumah kedua bagi Bejo. Tak heran jika ia akrab dengan para dokter dan perawat. Favoritnya adalah Dokter Andre yang sangat ramah dan sering membawakannya mainan. Setiap pagi ia selalu menanti kedatangan Dokter Andre.
***

Marni baru saja memasukkan pewangi dalam bilasan pakaian yang sedang dicucinya ketika Bu Hindun, majikannya memanggilnya ke ruang keluarga. “Marni, apakah kamu tahu Ibu Nur gurunya Bejo mengundurkan diri dari sekolah?”

Marni menggelengkan kepala. Kesibukannya sebagai tukang cuci di lima rumah membuatnya tidak sempat untuk mengobrol dengan tetangga. Untunglah Bu Hindun sering membagi informasi untuknya. Walaupun banyak informasi yang tidak dimengertinya.

“Aku dengar, Ibu Nur mengundurkan diri karena malu punya murid seperti Bejo yang sudah tiga kali tidak naik kelas,”ujar Bu Hindun.

Marni hanya bisa mengusap dada sambil beristighfar. Ia  tidak menyangka keputusannya menyekolahkan Bejo di sekolah biasa bukan SLB membuat orang lain menjadi susah. Kalau keadaannya memungkinkan, ia ingin menyekolahkan Bejo di SLB. Memang sekolah di sana tidak bayar tapi tempatnya jauh dari kediamannya. Marni tidak punya uang untuk biaya transportasi anaknya sekolah. Makanya ia menyekolahkan Bejo di dekat rumah. Sehingga tidak perlu keluar ongkos.

Marni sadar dengan keterbelakangan mental yang dimiliki anaknya, ia tidak bisa berharap banyak. Bejo sudah mau sekolah saja ia sudah sangat bersyukur. Daripada di rumah kerjanya hanya mengejar-ngejar anak ayam dan bebek milik tetangganya. Dengan bersekolah Marni tidak khawatir anaknya nyemplung ke sumur saat ia bekerja.
Setelah menjemur pakaian, Marni langsung pamit pulang. Ia mau menemui Ibu Nur, wali kelas anaknya.

“Ibu, bukan salah ibu kalau Bejo tidak naik kelas. Memang anak saya idiot! Jangan gara-gara Bejo ibu jadi mengundurkan diri,” kata Marni begitu berhadapan dengan Ibu Nur. Ada bulir bening yang jatuh di pipinya yang mulai keriput.
Ibu Nur menatap Marni, bingung. Sejurus kemudian ia baru menyadari maksud kedatangan Marni.

Ibu dapat informasi itu darimana?”tanya Ibu Nur hati-hati.
“Ada yang bilang pada saya kalau ibu mengundurkan diri karena malu punya murid seperti Bejo yang tiga kali tidak naik kelas,”ujar Marni sambil meremas-remas ujung bajunya. Gelisah.

“Memang benar saya mengundurkan diri tapi bukan karena Bejo tidak naik kelas.”
“Benarkah?”tanya Marni meminta kepastian.
“Benar. Saya mengundurkan diri karena saya merasa malu kepada diri saya sendiri. Saya merasa tidak pantas menyandang profesi sebagai guru.”

“Kenapa bisa begitu? Bukankah ibu selalu baik sama anak-anak?”
“Menjadi guru berarti harus bisa menjadi teladan bagi anak didiknya. Dan saya tidak bisa menjadi contoh,” ujar Ibu Nur dengan mata berkaca-kaca. “Walaupun bukan murid yang pintar, Bejo adalah murid kesayangan saya. Ia selalu baik pada setiap orang walaupun teman-temannya sering menghina kekurangannya. Ia juga sangat ringan tangan. Kalau dilihatnya saya akan menghapus papan tulis maka dengan segera ia akan menawarkan dirinya untuk melakukan pekerjaan itu.”

Sejenak Ibu Nur terdiam. “Saya sangat menyayanginya. Saya ingin agar Bejo bisa naik kelas.  Makanya ketika ulangan kemarin, saya memberinya bocoran soal beserta jawabannya. Selama ini nilai Bejo selalu dibawah angka empat. Saya berharap apa yang saya lakukan itu bisa mendongkrak nilainya. Tapi apa yang terjadi? Bejo menolak tawaran saya. Dia bilang ‘kenapa ibu ngajari aku nyontek? Bukankah ibu sendiri yang bilang kalau menyontek adalah perbuatan yang tidak jujur dan bisa masuk neraka’

Perkataan Bejo sangat menohok hati. Saya yang mengajari murid-murid untuk selalu bersikap jujur tapi saya tidak bisa melakukan apa yang saya ajarkan. Saya sangat malu. Makanya setelah kenaikan kelas, saya mengundurkan diri. Bejo dengan segala keterbatasannya mampu menjaga dirinya untuk selalu bersikap jujur. Sementara saya dan jutaan orang lain tidak bisa bersikap seperti itu. Ibu beruntung dikaruniai anak seperti Bejo!”puji Ibu Nur tulus.

Marnik terpana mendengar penjelasan Ibu Nur. Ada setitik bahagia menyelinap di lubuk hati. Dan rasa itu membuat otot-otot di sekitar mulutnya menjadi kendur. Tanpa sadar, Marni tersenyum sangat lebar. Senyum kebanggaan seorang ibu pada anaknya.

Oleh : Emi Afrilia Burhanuddin
 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(ful)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s